Page 466 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 DESEMBER 2021
P. 466

Namun, Ganjar masih menggunakan UU Nomor 11 Tahun 2020 dan PP Nomor 11 Tahun 2020
              tersebut untuk menetapkan UMK Jateng 2022.
              “Maka keputusan Gubernur Jawa Tengah yang menetapkan UMK 2022 dengan mengacu UU
              Nomor 11 Tahun 2020 dan PP Nomor 11 Tahun 2020 tersebut adalah inkonstitusional. Cacat
              formil,” tegasnya.

              Dengan adanya keputusan MK tersebut, maka UU Nomor 11 Tahun 2020 dan PP Nomor 36
              Tahun 2021 tersebut tidak bisa digunakan sebagai landasan penetapan UMK.

              “Ini  sungguh  memalukan,  karena  pemerintah  Jateng  sangat  tidak  menghormati  lembaga
              tertinggi Mahkamah Konstitusi,” katanya.

              Seharusnya,  Gubernur  Jawa  Tengah  mempertimbangkan  usulan  atau  masukan  dari  serikat
              pekerja atau buruh karena UMK ini ditetapkan untuk buruh. Apalagi dalam masukan itu telah
              disebutkan  bahwa  UU  Nomor  11  Tahun  2020  dan  PP  Nomor  11  Tahun  2020  tersebut  telah
              ditangguhkan MK.

              Di masa pandemi Covid-19 ini, buruh berjuang mandiri tanpa subsidi, bergelut dengan maut
              demi mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah. Ketika buruh meminta hak kenaikan upah
              pun diabaikan.

              “Saya mohon, gubernur yang dipilih oleh rakyat harus bersikap adil dan bijaksana. Pemerintah
              jangan  hanya  demi  memberikan  karpet  merah  kepada  oligarki,  hanya  berpikir  investasi,
              sedangkan rakyatnya dikorbankan,” imbuh dia.

              Sekretaris Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) Jawa Tengah, Heru Budi Utoyo merasa
              kecewa  berat  dan  mengaku  masih  mempertimbangkan  langkah  hukum  untuk  menggugat
              kebijakan Gubernur Jawa Tengah.
              “Kami kecewa atas kebijakan tersebut dan masih kami pertimbangkan apakah akan melakukan
              gugatan  atau  tidak.  Kami  akan  persiapkan  terlebih  dahulu  dan  konsolidasi  dengan  jajaran
              pengurus daerah di kabupaten/kota se-Jawa Tengah,” tegasnya.

              Heru kecewa karena UMK yang ditetapkan tidak mengakomodasi aspirasi para buruh yang sudah
              disampaikan selama ini.

              “Upah  yang  ditetapkan  condong  ke  pengusaha,  gubernur  tidak  akan  pernah  tahu  kalau
              kebutuhan hidup buruh semakin jauh dari KHL (Kebutuhan Hidup Layak),” tegasnya.

              Divisi  Ketenagakerjaan  Aliansi  Jurnalis  Independen  (AJI)  Kota  Semarang,  Abdul  Mughis
              menyayangkan, keputusan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam penetapan UMK 2022
              Jateng ini jelas melukai hati rakyat, terutama buruh.

              “Sangat  disayangkan,  tidak  satu  pun  aspirasi  buruh  yang  telah  disampaikan  dalam  audiensi
              bersama Disnaker Provinsi Jawa Tengah menjadi pertimbangan dalam penetapan UMK Jateng
              2022.  Kebijakan  yang  inkonstitusional  harus  ditolak!”  ungkap  Mughis  yang  juga  menjabat
              sebagai Ketua Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM) Jawa Tengah itu.

              Pihaknya juga mendorong Gubernur Jawa Tengah untuk segera merevisi keputusan tersebut
              agar kebijakan tersebut adil.
              “Saya teringat tagline Pak Ganjar di profil akun twitternya yang sungguh bijaksana ‘Tuanku ya
              Rakyat, Gubernur cuma mandat’. Kalau rakyat menagih tagline itu tentu tidak salah,” ujarnya.



                                                           465
   461   462   463   464   465   466   467   468   469   470   471