Page 191 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 06 JULI 2020
P. 191

merugikan  keuangan  negara,  membiarkan  praktik  monopoli  terjadi  hingga  adanya  nuansa
              konflik kepentingan.


              Sederhananya, jika program ini tetap dipaksakan berjalan maka dapat melanggar ketentuan
              peraturan  perundang-undangan  dan  berpotensi  terjadinya  tindak  pidana  korupsi.  Terdapat
              enam argumentasi yang menjadi landasan laporan ini.

              Apa saja argumentasinya?


              Pertama, penempatan Program Kartu Prakerja tidak sesuai dengan tugas, pokok, fungsi yang
              selama ini diemban oleh Kementerian Koordinator bidang Perekonomian. Sedari awal ICW sudah
              mempertanyakan dasar argumentasi pemerintah untuk menempatkan Kementerian Koordinator
              bidang Perekonomian sebagai pengampu Program Kartu Prakerja.

              Sebab, berdasarkan tugas pokok dan fungsi, penyelenggaraan program ini lebih tepat diberikan
              kepada Kementerian Ketenagakerjaan.


              Dengan  menempatkan  Kemenko  Perekonomian  sebagai  pelaksana  teknis  program  Kartu
              Prakerja, timbul konflik peran secara internal karena fungsi pengawasan dan fungsi pelaksanaan
              teknis  menyatu  pada  satu  Kementerian.  Sehingga,  ini  dipandang  sebagai  malaadministrasi
              karena melampaui wewenang sesuai dengan Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 37 Tahun
              2008.

              Kedua, mekanisme Kurasi lembaga pelatihan tidak layak dan mengandung konflik kepentingan.
              Berdasarkan  Pasal  27  PerMenKo  Per  3/2020  sudah  dijelaskan  bahwa  jangka  waktu  yang
              dibutuhkan  oleh  Platform  Digital  dan  Manajemen  Pelaksana  untuk  melakukan  proses  kurasi
              yakni paling lama 21 hari sampai akhirnya bisa ditetapkan sebagai lembaga pelatihan.

              Namun faktanya, rentang waktu antara proses pendaftaran gelombang 1 sampai penutupan
              hanya  lima  hari  saja.  Ketiga,  perjanjian  kerja  sama  antara  manajemen  pelaksana  dengan
              platform digital dilakukan sebelum terbitnya Permenko 3/2020.

              Kemudian?

              Keempat, pemilihan platform digital tidak sesuai dengan prinsip pengadaan barang dan jasa
              pemerintah.  Penunjukan  Platform  Digital  sebagai  mitra  pemerintah  tidak  menggunakan
              instrumen hukum yang jelas.

              Bahkan, pemerintah juga tidak memberikan informasi kepada masyarakat mengenai adanya
              kesempatan  untuk  menjadi  mitra  dalam  Program  Kartu  Prakerja.  Terbatasnya  informasi
              menggambarkan kesan bahwa pemerintah ingin menjauhkan informasi ini dari masyarakat.

              Kelima, potensi konflik kepentingan platform digital. Berdasarkan hasil kajian ICW ditemukan
              bahwa adanya peran ganda yang dilakukan oleh Platform Digital merangkap sebagai Lembaga
              Pelatihan.  Dari  850  pelatihan  yang  ICW  identifikasi,  sebanyak  137  pelatihan  di  antaranya
              merupakan milik Lembaga Pelatihan yang juga merangkap sebagai Platform Digital.

              Kajian  KPK  pun  memperlihatkan  hal  serupa  bahwa  adanya  konflik  kepentingan  yang  timbul
              karena dari delapan Platform Digital yang menjadi mitra, lima di antaranya bertindak sekaligus
              sebagai Lembaga Pelatihan. Jika diperinci, dari 1.895 pelatihan yang tersedia, 250 pelatihan

                                                           190
   186   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196