Page 32 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 06 JULI 2020
P. 32

PENGANGGURAN MELONJAK, DISNAKER KEDODORAN

              Dinas  Ketenagakerjaan  (Disnaker)  Kota  Tangerang  Selatan  (Tangsel)  mengaku  kewalahan
              mengatasi angka pengangguran yang terus meningkat akibat PHK selama pandemi COVID-19.
              Kondisi tersebut adalah buntut dari bangkrutnya puluhan perusahaan di Tangsel.
              Kabid Penempatan Tenaga Kerja, Dinasker Tangsel Endang Wahyun-ingsih mengatakan, jumlah
              pekerja yang menjadi pengangguran itu mencapai ribuan orang. "Menyebabkan bertambahnya
              angka pengangguran di kota ini. Itu tadi perusahaan tutup karena tak beroperasi akibat corona.
              Mau tidak mau semua pekerjanya di-PHK karena tidak bisa menggaji pekerja," jelasnya, Minggu
              (5/7).

              Ditambahkannya, berdasarkan data Disnaker Tangsel, sejak Maret 2020 ada sebanyak 2.754
              pekerja berstatus pengangguran akibat dampak dari pandemi virus corona. Rinciannya, sekitar
              1.626 pekerja yang terkena PHK dari 43 perusahaan.

              Kemudian  882  pekerja  dirumahkan  dari  80  perusahaan,  dan  246  orang  dari  sektor  UMKM.
              "Kebanyakan berasal dari sektor industri, pariwisata, dan hiburan seperti hotel dan restoran,
              serta UMKM. Kegiatan mereka sekarang masih mencari pekerjaan baru. Kondisi perekonomian
              mereka juga pas-pasan. Memang sangat miris sekali dengan kondisi ini," ungkapnya prihatin.

              Namun, dari ribuan pekerja tersebut sambung Endang, tak hanya dari Tangsel saja melainkan
              datang dari sejumlah daerah. Seperti Depok Serang, Kabupaten/Kota Tangerang.

              Kata dia, para pekerja itu semua bekerja di perusahaan yang ada di Tangsel. Saat ini, lanjutnya,
              jajarannya terus berupaya untuk mendata seluruh pekerja yang terkena PHK,khususnya warga
              Tangsel.

              Para pekerja tersebut diimbau untuk segera membuat kartu prakerja. Pemkot Tangsel akan
              berupaya memfasilitasi seluruh korban PHK tersebut dengan menyediakan pelatihan.


              "Kemungkinan  di  2021  baru  ikut  pelatihan  dan  segera  disalurkan  buat  bekerja  lagi.  Ya  kan
              menggunakan anggaran 2021. Sekarang ini hanya itu yang mampu kami berikan," imbuhnya.

              Sementara  itu,  salah  satu  korban  PHK  asal  Tangsel  Firda  Astuti  mengaku,  sejak  terkena
              pengurangan  karyawan dirinya  hanya  menjadi  ibu  rumah  tangga.  Dengan  hidup  serba pas-
              pasan dia harus mengelola pendapatan suami yang bekerja sebagai penjahit pakaian.

              Ibu tiga anak ini terkena PHK karena hotel tempatnya bekerja tidak beroperasi selama PSBB
              lalu.  "Apalagi  pas  ada  PSBB  semakin  sepi.  Ada  seldtar  56  karyawan  dirumahkan,  tidak  ada
              pesangon. Mau bagaimana lagi ya harus seperti ini, saya tidak bisa lagi bantu suami karena di
              PHK," ucapnya sedih.

              Terpisah, Pengamat Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Turro Wongkaren menyarankan
              agar Pemkot Tangsel bisa menciptakan produk

              untuk pangsa pasar lokal. Hal tersebut bisa menjadi solusi untuk menekan pengangguran lebih
              banyak lagi.

              Diharapkan, Pemkot Tangsel bisa mengupayakan lapangan kerja baru secara mandiri. Sehingga
              diharapkan bisa menarik investor baru.

              "Harus punya inovasi agar mendatangkan investor. Memang semua tahu kalau penggangguran
              bertambah, tapi pemerintah daerah tidak perlu menyerah. Tumbuhkan industri lokal," tegasnya,
              (cok)
                                                           31
   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37