Page 46 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 02 AGUSTUS 2019
P. 46
"Kami sangat percaya bahwa disrupsi teknologi era secara signifikan memengaruhi
model bisnis maskapai dan memberikan efek yang memberi energi pada bisnis tidak
hanya untuk peningkatan efisiensi jangka pendek," jelasnya.
Di sisi lain, pihak akademisi juga harus menciptakan tenaga kerja yang siap pakai
dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Apalagi, untuk
mencetak SDM berbasis vokasi yang siap bekerja di bidang transportasi dan logistik.
Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Perhubungan Bidang Ekonomi
Kawasan dan Kemitraan Perhubungan Gede Pasek Suardika menuturkan tantangan
logistik dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-
2045 adalah menurunkan biaya dari 23% menjadi 8%.
"Ini tidak mudah dan sangat besar. Perlu strategi yang sangat serius dari
transportasi laut. Dan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim," terangnya
dalam kesempatan yang sama.
Dalam hal ini, kata Suardika, ITL sudah inline untuk mencetak insan-insan yang
mampu mendukung tantangan logistik Indonesia ke depannya.
"Kami berharap ITL (Trisakti) bisa menjadi penjuru sektor kemaritiman untuk
mendukung juga dari teknologi. Karena upaya untuk mencapai 8% (target biaya
logistik) itu harus di-create dari SDM yang berbudaya kemaritiman juga. Jadi harus
link and match dengan industri, butuh SDM yang qualified dan siap kerja," tuturnya.
Adapun, dalam kegiatan GRoSTLog 2019, ITL Trisakti mengusung tema 'Managing
Growth in a Disruptive Enviroment in Aviation Industry'. Bukan hanya mengundang
pihak pemerintah saja, acara ini juga menghadirkan pembicara dari PT Dirgantara
Indonesia, serta pakar dan peneliti dari Belgia, Cina, Malaysia, Singapura, dan
Thailand.
Seminar ini juga diharapkan mampu membantu pemerintah dalam melakukan
analisis-analisis serta dapat memberi masukkan saat hendak membuat kebijakan.
(prf/ega)
Page 45 of 87.

