Page 63 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 NOVEMBER 2019
P. 63

"Pengawasan tidak diawal, tapi di akhir. Setelah dinilai BPK, lakukan evaluasi, mana
               kekurangan, mana masalahnya perbaiki," ujarnya.

               Fithra mengingatkan pemerintah harus matang dalam menghitung anggaran yang
               dibutuhkan, peruntukan dan hasil yang ingin dicapai dari pelaksanaan program
               tersebut.

               Langkah tersebut diperlukan agar nantinya Program Kartu Prakerja tidak hanya
               dilaksanakan sekadar untuk memenuhi janji politik saja tanpa bisa benar-benar
               memberikan manfaat kepada masyarakat.

               "Dampaknya harus jelas, jangan hanya program terselenggara tapi ternyata tidak
               memberikan dampak dan manfaat ke masyarakat," jelasnya.

               Bukan Jawaban Satu-satunya Sebenarnya, Program Kartu Prakerja bukan satu-
               satunya jawaban yang bisa digunakan oleh pemerintah untuk membantu
               masyarakat memperoleh penghidupan yang layak. Fithra menilai masih ada masalah
               lain yang perlu diatasi pemerintah. Salah satunya berkaitan dengan kurikulum
               pendidikan kejuruan di dalam negeri.

               Menurutnya, saat ini kurikulum sekolah kejuruan dan pelatihan di dalam negeri
               cukup tertinggal dibandingkan negara lain.

               Ketertinggalan tersebut sering membuat tenaga kerja yang dihasilkan oleh balai
               latihan kerja atau sekolah kejuruan di dalam negeri tidak cocok dengan kebutuhan
               industri.

               Dengan kondisi tersebut, tidak mengherankan kalau sekarang ini jumlah lulusan
               SMK yang menganggur cukup tinggi.

               Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persentase kontribusi pengangguran
               lulusan SMK terhadap tingkat pengangguran terbuka sampai dengan Agustus 2019
               kemarin mencapai 10,42 persen.

               Tak hanya kurikulum, dari sisi kualitas instruktur pun Indonesia kalah jauh. Sebagai
               pembanding Jerman.

               Data yang dimilikinya, jumlah instruktur handal di balai latihan kerja mencapai 133
               ribu orang. Tapi, balai latihan kerja di Indonesia hanya memiliki 2.000 instruktur.

               Menurutnya, masalah tersebut harus segera diatasi. Kementerian Ketenagakerjaan
               tidak bisa bekerja sendiri.

               Mereka harus melibatkan sejumlah kementerian, seperti Kementerian Pendidikan
               dan Kebudayaan serta Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk
               mengatasi masalah tersebut.




                                                       Page 62 of 144.
   58   59   60   61   62   63   64   65   66   67   68