Page 25 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 02 MARET 2020
P. 25

Title         SEKJEN KSBSI, DEDI HARDIANTO: OMNIBUS LAW KARPET MERAH BAGI PEMILIK MODAL
                Media Name    suara.com
                Pub. Date     01 Maret 2020
                              https://www.suara.com/wawancara/2020/03/01/072000/sekjen-ksbsi-dedi-ha rdianto-
                Page/URL
                              omnibus-law-karpet-merah-bagi-pemilik-modal
                Media Type    Pers Online
                Sentiment     Negative










               Pengajuan Rancangan Undang-Undang atau RUU Cipta Kerja (Ciptaker) ---yang
               dikenal juga dengan Omnibus Law -- dari pemerintah ke DPR untuk dibahas, menuai
               banyak reaksi. Tidak saja komentar dari banyak pihak di berbagai media maupun
               jejaring sosial, tapi sejumlah aksi massa pun telah dilakukan demi menentang,
               menolak, atau setidaknya mempersoakan RUU yang juga banyak disingkat dengan
               istilah RUU Cilaka tersebut.

               Kalangan buruh dan pekerja diketahui yang terutama aktif menggelar demonstrasi
               atau unjuk rasa menentang RUU tersebut. Ini karena memang di dalam draf RUU itu
               disebut ada banyak poin yang berhubungan langsung dengan nasib para buruh,
               yang bahkan dikatakan mengubah sejumlah aturan yang sebelumnya sudah berlaku
               di UU Ketenagakerjaan --termasuk yang menyangkut status maupun kesejahteraan
               para pekerja.

               Sebagaimana diberitakan, Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia ( KSBSI )
               adalah salah satu organisasi yang lantang menyuarakan penolakan para buruh
               tersebut. Apa latar belakangnya, dan bagaimana pemikiran mereka? Lantas,
               bagaimana rencana mereka ke depan? Berikut petikan wawancara Suara.com
               dengan Dedi Hardianto , Sekjen KSBSI, baru-baru ini:

               Bagaimana KSBSI melihat Omnibus Law?
               Kami melihatnya dari tiga aspek. Yang pertama, aspek yuridisnya, ini sudah
               bermasalah. Karena itu yang paling penting dalam membuat undang-undang;
               rumah besarnya sudah bermasalah. Kalau ini terus dilanjutkan, ke bawahnya akan
               jadi masalah. Kedua, aspek filosofisnya. Negara menjamin rakyat untuk
               mendapatkan kesejahteraan. Dalam hal apa? Ada pekerjaan layak, upah layak, dan
               kehidupan layak. Ketiga, dari kaedah hukumnya. Ketika UU dibuat, kaedah
               hukumnya UU harus lebih baik, bukan lebih buruk.

               Pemerintah menyebut sudah melibatkan serikat buruh dalam membahas
               Omnibus Law ini. Apa benar begitu? Bagaimana sikap KSBSI?
               Kemudian berkaitan dengan proses, pemerintah menyebut sudah mengajak serikat
               buruh untuk membahas "RUU Cilaka" ini. Tapi kami melihatnya ini adalah "(RUU)
               petaka" buat kaum buruh. Pemerintah berlomba-lomba mengatakan serikat buruh




                                                       Page 24 of 71.
   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30