Page 26 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 02 MARET 2020
P. 26

sudah dilibatkan. Itu adalah pembohongan publik. Kita tidak pernah diajak
               membahas "RUU Cilaka" itu. Yang ada cuma kita diajak pertemuan, dan dikasih
               drafnya dari pemerintah untuk sosialisasi.

               Memang, kami melihat RUU itu lebih (pada) domainnya pemerintah dengan pelaku
               bisnis. Enam klaster lebih kepada bagaimana negara memungut pajak, bagaimana
               negara mensubsidi untuk peningkatan pajak. Kami lebih bicara Omnibus Law dalam
               (hal) cipta lapangan kerja. Kami minta urusan mengenai ketenagakerjaan
               dikeluarkan dari draf cipta lapangan kerja (ini). Bahwa ada irisan-irisan dengan
               sektor lain, itu belakangan.

               Dalam proses tadi, untuk mendapatkan dokumennya saja susah. Padahal dalam
               pembuatan UU itu harus ada transparansi. Lalu ketika tekanan buruh semakin masif,
               lalu pemerintah membuat keputusan 121 (terkait) keterlibatan serikat pekerja.
               Sebenarnya bukan kita mendesain untuk terlibat. Jadi pemerintah mengundang
               serikat pekerja/serikat buruh, dan undangan itu diklaim. Setelah klaim itu
               dikeluarkan, kami langsung (menggelar) konferensi pers menolak itu.

               Ada empat persoalan mendasar yang kami perjuangkan, terutama soal outsourcing.
               Sejak dulu kami selalu menyuarakan bahwa outsourcing, buruh kontrak, upah
               murah, itu harus dihapuskan. Karena banyak masalah dalam kelangsungannya.
               Kemudian upahnya boleh di bawah upah normatif. Ini yang terjadi. Lalu kedua,
               terkait PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu). Lalu outsourcing itu diperluas.
               Sementara ini hanya 5 sektornya: (antara lain) sekuriti, OB, driver, catering di
               pertambangan. Ini yang membuat kami melakukan penolakan.

               Kedua, terkait dengan PKWT, selama ini maksimal 2 kali. Kalau 3 kali, implikasinya
               buruh harus jadi karyawan tetap. (Tapi) Melalui Omnibus Law ini, semua buruh bisa
               jadi PKWT. Kemudian PHK terhadap buruh oleh perusahaan. Dalam "RUU Cilaka" ini,
               kompensasi pesangon terhadap buruh jadi lebih kecil dibanding aturan yang telah
               diatur dalam UU Ketenagakerjaan yang sudah ada. Padahal UUD 1945 menjamin
               warga negara termasuk buruh untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, upah yang
               layak.

               Lalu (soal) kelangsungan jaminan sosial kerja. Kalau buruh dibayar per jam, siapa
               yang membayar jaminan sosialnya?

               Apa langkah KSBSI dalam melakukan penolakan terhadap Omnibus Law
               itu?
               Kami melakukan komunikasi dan koordinasi dengan elemen-elemen massa yang
               lain. Lalu, kami juga berkoordinasi dengan klaster-klaster yang terdampak,
               bermasalah, untuk bersama-sama melakukan gerakan massa. Akan tetapi (kami)
               juga melakukan pembuatan dokumen-dokumen, untuk memberikan masukan ke
               parlemen. Sebab drafnya sudah di parlemen, maka kewenangan ada di parlemen.
               Maka kami menuntut Omnibus Law ini jangan dilanjutkan, jangan dipaksakan,
               karena banyak masalahnya. Jadi kita upgrade ulang.




                                                       Page 25 of 71.
   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31