Page 165 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 MEI 2020
P. 165

Title          FBLP: SURAT EDARAN MENAKER SOAL THR MAKIN RUGIKAN BURUH DI TENGAH PANDEMI
               Media Name     suara.com
               Pub. Date      11 Mei 2020
                              https://www.suara.com/news/2020/05/11/140014/fblp-surat-edaran-menaker -soal-thr-
               Page/URL
                              makin-rugikan-buruh-di-tengah-pandemi
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative







               Di tengah memburuknya situasi kehidupan buruh akibat wabah Covid-19,
               pemerintah justru memberikan kelonggaran bagi perusahaan dalam pembayaran
               tunjangan hari raya (THR) kepada buruh. Kelonggaran itu sampaikan Menteri
               Keteganakerjaan Ida Fauziah melalui Surat Edaran (SE) No. M/6/HI.00.01/V/2020.

               Isinya yakni bagi perusahaan-perusahaan yang tidak mampu membayarkan THR
               buruh agar melakukan perundingan dengan buruh mengenai besaran serta teknis
               pembayarannya.

               Terkait hal itu, Ketua Umum Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) Jumisih menilai,
               pemerintah tidak berpihak kepada buruh dan lebih menguntungkan perusahaan di
               tengah pandemi. Alih-alih menekan perusahaan, Menaker seolah ingin tampil agung
               sebagai penengah antara buruh dan pengusaha.

               "Padahal yang dilakukannya merupakan politik cuci tangan yang dikemas dengan
               alasan pembenar yaitu kedaruratan Covid-19," kata Jumisih, Senin (11/5/2020).

               Semestinya, kata dia, di tengah kedaruratan ini, buruh sebagai pihak yang tidak
               menguasai sumber daya ekonomi lah yang harus menjadi prioritas. Kementerian
               Ketenagakerjaan tidak tegas terhadap perusahaan dalam melindungi buruh.

               "Surat edaran Menaker itu tidak efektif, karena banyak perusahaan yang melakukan
               PHK atau merumahkan pekerja tanpa perundingan mengenai pembayaran upah,"
               ujarnya.

               Dia menuturkan, perusahaan terus berdalih terkendala cash flow dalam pembayaran
               hak-hak buruh, sedangkan negara hanya 'duduk manis' tanpa mendesak
               pembuktian. Menurutnya sangat tidak logis jika perusahaan yang sudah meraup
               untung bertahun-tahun dari keringat buruh serta merta kehilangan kemampuan
               finansialnya karena berhenti berproduksi hanya selama satu bulan lebih.

               "Selayaknya negara tidak melakukan diskriminasi kepada buruh. Apalagi buruh
               perempuan yang sudah banyak menjadi korban dari dirumahkan selama pandemi
               tanpa perlindungan upah," imbuhnya.

               Sementara itu buruknya penyaluran bantuan sosial karena data yang semrawut juga
               tampak tidak membuat Menaker bergeming. Padahal, karena negara yang selalu




                                                      Page 164 of 243.
   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170