Page 93 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 29 OKTOBER 2021
P. 93
Judul Massa Unjuk Rasa ke Istana Bubarkan Diri, Gebrak: Inilah Pemerintah
kita
Nama Media tempo.co
Newstrend Demo Buruh Evaluasi Kepemimpinan Joko Widodo-Ma'ruf Amin
Halaman/URL https://metro.tempo.co/read/1522349/massa-unjuk-rasa-ke-istana-
bubarkan-diri-gebrak-inilah-pemerintah-kita
Jurnalis Non Koresponden
Tanggal 2021-10-28 21:23:00
Ukuran 0
Warna Warna
AD Value Rp 17.500.000
News Value Rp 52.500.000
Kategori Ditjen PHI & Jamsos
Layanan Korporasi
Sentimen Negatif
Ringkasan
Massa unjuk rasa buruh dan mahasiswa di Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada hari ini
membubarkan diri sekitar pukul 16.30. Demonstrasi itu diikuti berbagai organisasi masyarakat
sipil yang tergabung dalam Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) untuk mengevaluasi dua
tahun kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden RI Joko Widodo-Maruf Amin. Aliansi Gebrak
diisi oleh KASBI, KPBI, KPA, SGBN, KSN, SINDIKASI, LMND-DN, LBH Jakarta, YLBHI, KPR,
SEMPRO, KRPI, Presidium GMNI dan JARKOM SP Perbankan.
MASSA UNJUK RASA KE ISTANA BUBARKAN DIRI, GEBRAK: INILAH PEMERINTAH
KITA
Massa unjuk rasa buruh dan mahasiswa di Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada hari ini
membubarkan diri sekitar pukul 16.30. Demonstrasi itu diikuti berbagai organisasi masyarakat
sipil yang tergabung dalam Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) untuk mengevaluasi dua
tahun kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden RI Joko Widodo-Maruf Amin.
Aliansi Gebrak diisi oleh KASBI, KPBI, KPA, SGBN, KSN, SINDIKASI, LMND-DN, LBH Jakarta,
YLBHI, KPR, SEMPRO, KRPI, Presidium GMNI dan JARKOM SP Perbankan.
Nining Elitos, Juru bicara Gebrak merasa kecewa karena tidak ada tanggapan dari istana.
Sebelum mengadakan unjuk rasa hari ini, mereka sudah pernah memberikan tuntutan kepada
pemerintah tapi tidak mendapatkan respons positif.
“Inilah pemerintah kita hari ini, kalau orang orang yang punya bermobil mewah, berpakaian rapi,
pasti akan diterima bagaimana masukannya,” ujar Nining kepada wartawan, Kamis, 28 Oktober
2021.
Menurutnya, Jokowi dan Ma’ruf Amin membutuhkan suara rakyat hanya saat pemilihan umum,
dan setelah menduduki kursi Presiden dan Wakil Presiden mereka melupakan suara-suara rakyat.
92

