Page 23 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 FEBRUARI 2020
P. 23

Tidak diketahui alasan para menteri menyerahkan berkas kontroversial itu secara
               diam-diam. Di sisi lain, siang itu di luar area DPR RI juga tengah berlangsung aksi
               buruh untuk menolak RUU Omnibus Law Cipta Kerja, yang dinilai hanya
               menguntungkan pengusaha.

               Bocornya penyerahan Surat Presiden terakit RUU Omnibus Law Cipta Kerja itu
               berasal dari agenda harian Airlangga. Awalnya, Airlangga dijadwalkan menyerahkan
               Surpres RUU Omnibus Law Cilaka ke DPR RI pukul 11.00 WIB. Namun agenda ini
               kembali ditarik Humas Kemenko karena adanya rapat terbatas di Istana Bogor.

               Setelah kedatangan para menteri itu terendus media, baru lah mereka memutuskan
               untuk mengadakan konferensi pers (konpers). Hal ini jelas dilakukan tanpa rencana.

               Para media diminta tiga kali berpindah tempat konpers. Pertama, seluruh media
               diberitahu bahwa konpers akan berlangsung di ruang pimpinan DPR RI yang berada
               di lantai 2 Gedung Nusantara III. Setelah itu, para media kembali diminta turun dan
               diberitahu bahwa konpers akan dilaksanakan di dekat lift.

               Lokasi konpers kemudian dipindah ke podium Gedung Nusantara III. Tak ada
               microphone maupun speaker. Bahkan saat para menteri itu tiba di lokasi konpers,
               harus menunggu sekitar 10 menit demi menunggu petugas membawa microphone.
               Akhirnya, konpers dadakan itu dimulai 'seadanya' sekitar pukul 14.30 WIB.

               Berganti Nama

               Ketua DPR RI Puan Maharani memastikan RUU Omnibus Law di sektor
               ketenagakerjaan itu berganti nama menjadi Cipta Kerja, bukan lagi Cipta Lapangan
               Kerja (Cilaka). Namun ia enggan menjelaskan secara detail alasan pergantian
               rancangan beleid sapu jagat tersebut.

               "Hari ini disampaikan oleh Pak Menko Perekonomian, Bu Menkeu, Menaker, dan
               lainnya untuk bisa berkoordinasi terkait dengan RUU Omnibus Law Cipta Kerja,
               bukan lagi Cilaka ya," ujar Puan saat konpers.

               RUU itu mencakup 79 Undang-Undang, 15 bab, dan 174 pasal. Nantinya, RUU
               Omnibus Law itu akan dibahas sesuai dengan mekanisme di legislatif. Namun Puan
               pun belum mengetahui, apakah nantinya dibahas melalui Badan Legislatif (Baleg)
               atau dibentuk Panitia Khusus (Pansus).

               "DPR belum tahu isinya, hanya disampaikan tadi 164 pasal dan akan melibatkan
               tujuh komisi. Dan akan saya jalankan mekanisme DPR, apakah Baleg atau Pansus,
               karena kan ini melibatkan tujuh komisi terkait dari beberapa klaster," jelasnya.

               Diskusi Publik melalui DPR

               Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui bahwa draf RUU Omnibus Law
               Cipta Kerja yang diserahkan ke DPR itu belum melalui diskusi publik atau public



                                                       Page 22 of 177.
   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28