Page 133 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 09 MARET 2020
P. 133
Title PENGAMAT: OMNIBUS LAW CIPTAKER BISA MENJAWAB PERMASALAHAN
KETENAGAKERJAAN
Media Name beritasatu.com
Pub. Date 07 Maret 2020
Page/URL https://www.beritasatu.com/ekonomi/606411/pengamat-omnibus-law-ciptake r-bisa-
menjawab-permasalahan-ketenagakerjaan
Media Type Pers Online
Sentiment Positive
Jakarta, Pakar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia
Makassar, Fahri Bachmid, menilai keberadaan Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker)
dapat menjawab permasalahan ketenagakerjaan yang dihadapi Indonesia. Untuk
itu, ia mendukung pemerintah segera menerbitkan aturan tersebut.
"Urgensi dari Omnibus Law Cipta Kerja adalah adanya dinamika perubahan global,
perlu respons yang cepat dan tepat, dan tanpa reformulasi kebijakan, maka
pertumbuhan ekonomi akan melambat," kata Bachmid di Jakarta, Sabtu (7/3/2020).
Bachmid melihat Omnibus Law Cipta Kerja dapat menciptakan terjadinya
pertumbuhan struktur ekonomi yang mampu menggerakkan semua sektor.
Keluarnya aturan tersebut juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui
penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, dan peningkatan produktivitas.
"jika Omnibus Law tidak dilakukan, maka lapangan pekerjaan akan pindah ke
negara lain yang lebih kompetitif. Hal ini merupakan urgensi dari Omnibus Law ,"
ujar Bachmid.
Sementara itu, Ketua Departemen Komunikasi dan Media Konfederasi Serikat
Pekerja Indonesia (KSPI), Kahar S. Cahyono menyoroti kepastian pekerjaan yang
akan didapatkan setelah terbitnya aturan. Ia mengharapkan agar aturan tersebut
dapat mengakomodir kepentingan tenaga kerja.
"Yang sangat dibutuhkan pekerja Indonesia saat ini bukan "pemanis" tetapi
kepastian pekerjaan, kepastian pendapatan, dan jaminan sosial yang layak,"
ujarnya.
Menurutnya apabila terdapat kepastian pekerjaan, pengusaha tidak mudah
melakukan pemutusan hubungan kerja, dan pemberian upah layak, maka pihaknya
tidak mempermasalahkan aturan tersebut.
"Kalau misalnya ada kepastian dalam pekerjaan. Tidak gampang di PHK, tidak bisa
dikontrak seenaknya, tidak bisa di- outsourcing . Kemudian upahnya layak, tanpa
sweetener pun kita sebenarnya tidak mempermasalahkan," tambahnya.
Page 132 of 192.

