Page 163 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 09 MARET 2020
P. 163

Diketahui, para pekerja yang tergabung dalam Serikat Gerakan Buruh Indonesia
               (SGBBI) menyerukan aksi mogok kerja sejak Jumat, (21/2/2020)


               "Kami harap pihak DGBBBI PT AFI dapat mengikuti anjuran yang diberikan oleh
               mediator," ungkap Simon.

               Lebih lanjut, Simon menjawab sejumlah poin tuntutan yang diajukan SGBBI dalam
               bipartit. Selengkapnya, berikut klarifikasi yang disampaikan PT AFI.

               1. Upah Pekerja

               Salah satu tuntutan krusial yang diajukan oleh SGBBI yakni mengenai sistem
               pengupahan. Pada awalnya, SGBBI meminta agenda pembahasan kenaikan upah
               sebesar 15 persen dari sales tahun 2018 pada tahun 2019. Besaran upah yang
               diminta sebesar Rp 11.623.616.

               Namun setelah perundingan bipartit berjalan lima kali, PT AFI menawarkan formula
               lain yakni dengan kenaikan upah senilai Rp 8.031.668 lantaran tidak bisa memenuhi
               besaran upah rapelan yang dituntutkan. Tawaran inipun tidak berujung pada
               penyelesaian.

               "Tidak terjadi kesepakatan dalam proses bipartit maupun mediasi. Pihak mediator
               sudah mengeluarkan anjuran tertulis. Bagi pihak yang tidak setuju bisa mengajukan
               gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial," ucap Simon.


               2. Tuduhan Eksploitasi Wanita Hamil

               Selain sistem pengupahan, PT AFI juga diduga melakukan tindakan eksploitasi
               kepada pekerja wanita hamil. Disebut-sebut banyak pekerja yang mengalami
               keguguran karena porsi kerja yang berat.

               Terkait hal ini, Simon menerangkan pihaknya telah mematuhi aturan mengenai
               keselamatan kerja seperti yang tertuang dalam Pasal 76 ayat (2) UU 13/2003.

               "Kami memiliki tim medis yang bertugas di dalam operasional. Mereka secara rutin
               memberikan cek medis secara berkala termasuk bag rekan pekerja yang sedang
               mengandung untuk tidak melakukan pekerjaan berat, terutama saat shift malam,"
               kata Simon.

               Lebih lanjut kata Simon, PT AFI juga melakukan verifikasi kepada pekerja yang
               mengalami keguguran melalui pengecekan surat dokter.

               "Tidak pernah ada diagnosa yang menerangkan pekerja keguguran karena
               melakukan pekerjaan terlalu berat," lanjutnya.

               3. Klaim Mogok Kerja Tidak Sah


               Dalam keterangan selanjutnya, PT AFI pun mengonfirmasi soal klaim aksi mogok
               kerja karyawan tidak sah.




                                                      Page 162 of 192.
   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168