Page 42 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 09 MARET 2020
P. 42

fenomena gunung es, situasi yang sebenarnya dipastikan lebih banyak.

               Di awal tahun 2020, Migrant Care juga mengidentifikasi kerentanan baru pekerja
               migran Indonesia yaitu terpapar wabah penyakit menular (virus corona) dan stigma
               yang melekat padanya. Situasi kerentanan tersebut belum direspons secara
               signifikan oleh pemerintah Indonesia.

               Disisi yang lain, muncul ancaman penggerusan hak perempuan pekerja migran yang
               datang dari eksekutif dan legislatif. Keluarnya dua rancangan legislasi Omnibus Law
               Cipta Kerja dan RUU Ketahanan Keluarga akan menimbulkan mara bahaya bagi
               pekerja migran perempuan Indonesia.

               Menurut Wahyu Susilo, salah satu tantangan terbesar untuk penegakan hak
               perempuan, termasuk di dalamnya pekerja migran perempuan adalah realitas
               ketimpangan yang sekarang ini membentuk wajah dunia. Berbagai studi tentang
               ketimpangan dan kemiskinan selalu memperlihatkan wajah perempuan sebagai
               korban utama dalam situasi ketidakadilan.

               Ia mengatakan, realitas feminisasi kemiskinan yang berlanjut pada feminisasi
               migrasi pekerja juga menunjukkan korelasi pada realitas ketimpangan dan
               meningkatkan kondisi migrasi tenaga kerja yang tidak layak (forced migration).
               Migrasi tenaga kerja sendiri telah memperlihatkan realitas ketimpangan
               pengupahan, ksempatan kerja yang tidak adil bagi laki-laki dan perempuan serta
               ketimpangan negara miskin dan negara kaya. "Situasi ini melahirkan sikap
               diskriminatif dan xenophobia dengan ditopang konstruksi masyarakat yang
               patriarkis," kata dia.

               Keterkaitan antara persoalan ketimpangan dan migrasi tenaga kerja dapat dilihat
               dalam tujuan (goal) ke sepuluh tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs)
               mengurangi ketimpangan baik di dalam negara maupun antar negara.

               Menurut Wahyu, ada dua target spesifik terkait migrasi tenaga kerja yaitu target
               tentang tata kelola migrasi yang aman dan tentang penurunan biaya remitansi
               hingga 3%.

               Sayang sekali, kata dia, dalam peta jalan pencapaian SDGs yang disusun
               pemerintah Indonesia dua perkara ketimpangan terkait migrasi tenaga kerja ini
               tidak masuk dalam prioritas pencapaian goal 10, padahal jumlah pekerja migran
               Indonesia sudah mencapai 9 juta orang (Data Bank Dunia, 2019).

















                                                       Page 41 of 192.
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47