Page 62 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 09 MARET 2020
P. 62

Omnibus law memang bisa mendongkrak investasi. Bila tepat guna investasi ini bisa
               diarahkan mengembangkan penelitian dan pembangunan ekonomi namun soal
               keberlanjutan tampaknya perlu kita pertimbangkan kembali dengan matang.
               Benarkah ini akan mengentaskan kemiskinan atau justru melahirkan masalah sosial
               baru? Apakah akan tercipta pemerataan atau justru menimbulkan kesenjangan yang
               kian parah?

               Jangan sampai omnibus law hanya mampu menyelamatkan penanam modal di
               tengah krisis ekonomi dunia sementara rakyat kian melarat. Pengaruh negara
               adidaya semakin kuat, perusahaan-perusahaan multinasional untung besar dari
               pasar besar 200-an juta penduduk Indonesia. Lapangan pekerjaan yang digadang-
               gadang sebagai alasan tak kunjung menuntaskan masalah sosial karena jumlahnya
               tetap tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja.

               Belum lagi investasi tersebut menafikan dampak lingkungan yang ujung-ujungnya
               merugikan rakyat itu sendiri. Tanah-tanah adat dan lahan-lahan pertanian yang
               menjadi sumber penghidupan petani-petani gurem berpeluang dialihfungsikan demi
               industrialisasi. Hak buruh tak lagi diutamakan hingga akhirnya bekerja hanya untuk
               bertahan hidup bukan lagi memperbaiki taraf hidup orang banyak.

               Pilar Penelitian dan Pengembangan Sebagaimana kita ketahui selama ini penelitian
               dan pengembangan belum menyentuh persoalan utama rakyat. Transfer teknologi
               beberapa kali terjadi, akuisisi bernuansa populis pun kerap dilakukan.

               Saya ambil contoh akusisi-akuisisi yang dilakukan Pertamina atas blok-blok migas.
               Kita bangga tapi bingung. Bangga karena akhirnya kita berdaulat atas blok-blok
               tersebut. Bingung karena harga BBM tak turun drastis, malah subsidi gas cepat atau
               lambat segera dicabut.

               Kita bahkan belum mengulas soal impor migas yang meningkat tiap tahun. Apa
               kabar impor migas kita? Seharusnya penelitian dan pengembangan diarahkan ke
               teknologi tepat guna, yang menyentuh persoalan utama rakyat sehari-hari.
               Diarahkan agar rakyat produktif, bukan konsumtif. Ditujukan untuk mengurangi
               impor, untuk berdiri di atas kaki sendiri bukan sebaliknya. Sayangnya investasi asing
               selama ini tak mencerminkan hal-hal yang demikian.

               Pengembangan energi baru dan terbarukan serta air bersih pun memerlukan
               investasi, terutama karena biayanya mahal dan teknologinya terbatas. Akan tetapi
               pemerintah harus berpikir ulang, apakah investasi yang masuk akan membuat harga
               listrik dan air bersih murah?

               Sangat wajar untuk meragukan karena dua alasan. Pertama, logika investor adalah
               mencari untung sebesar-besarnya. Sebab musabab pengembangan EBT mandeg
               ditengah jalan"dari target bauran energi 30 persen pada 2025"karena pemerintah
               tak mampu memberikan insentif harga yang "menguntungkan" atau "cepat balik
               modal" kepada investor.



                                                       Page 61 of 192.
   57   58   59   60   61   62   63   64   65   66   67