Page 27 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 FEBRUARI 2020
P. 27
Title MENAKER SINGGUNG PRODUKTIVITAS PEKERJA INDONESIA
Media Name republika.co.id
Pub. Date 21 Februari 2020
https://nasional.republika.co.id/berita/q60z3g428/menaker-singgung-pro duktivitas-
Page/URL
pekerja-indonesia
Media Type Pers Online
Sentiment Positive
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menyinggung produktivitas tenaga
kerja Indonesia yang dinilai kurang memuaskan. Ia berharap Omnibus Law Cipta
Kerja dapat mengatasi persoalan tersebut, selain untuk membuka lapangan
pekerjaan seluas-luasnya.
Menurut Ida, fakta terkait produktivitas itu disampaikan oleh Japan External Trade
Organization (JETRO). Dalam rilis hasil survei terbarunya terkait kondisi bisnis
perusahaan Jepang di Asia dan Oceania, sebanyak 55,8 persen perusahaan yang
disurvei menyatakan ketidakpuasannya terhadap produktivitas tenaga kerja
Indonesia bila dibandingkan dengan upah minimum yang dibayarkan.
"Tingkat ketidakpuasan tersebut jauh lebih tinggi dari rerata negara-negara di Asia
Tenggara yang hanya 30,6 persen," ujar politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
dalam sambutannya pada acara Rapat Koordinasi Kepala Dinas Ketenagakerjaan
Provinsi Se-Indonesia Tentang RUU Cipta Kerja Substansi Ketenagakerjaan di Hotel
Royal Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (20/2).
Bahkan, Ida menambahkan, tingkat ketidakpuasan Kamboja masih di atas Indonesia
dengan 54,6 persen.
Sebagai catatan, sejak periode 2015-2019, kenaikan upah di Indonesia pada sektor
manufaktur mencapai US$ 98. Sedangkan Vietnam hanya 51 dolar Amerika.
Sementara dengan upah yang naik, tingkat produktivitas Indonesia hanya tercatat
74,4 persen dibanding Vietnam yang mencapai 80 persen.
"Dengan demikian, mereka (perusahaan Jepang) berharap agar pemerintah
Indonesia bisa melakukan pengendalian upah minimum," tuturnya.
Selain itu, Ida juga kebijakan pesangon di Indonesia juga terlalu tinggi. Menurut
Institute for Development Economic and Finance (INDEF), peraturan tenaga kerja di
Indonesia masih terlalu rigid.
Akibatnya, para investor kurang tertarik untuk menanamkan modal pada industri
padat karya.
Page 26 of 174.

