Page 38 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 FEBRUARI 2020
P. 38

"Saya bisa kerja apa lagi kalau nggak mulung? Umur tua gini, yang penting bisa
               makan aja udah syukur," ucapnya.

               Selain Rustiani, Atun, seorang tukang sapu jalanan juga mengaku baru mendengar
               Omnibus Law. Meskipun tidak tahu, Atun berharap peraturan yang sedang digodok
               pemerintah itu bisa menyejahterahkan masyarakat, bukan justru membuat kaum
               pinggiran semakin terpinggirkan.

               "Saya belum pernah dengar ya, tapi kalau bikin peraturan ya mbok jangan buat
               masyarakat tambah susah," kata wanita 45 tahun ini.

               Saat berbincang dengan CNNIndonesia.com soal hak pekerja dalam Omnibus Law,
               Atun terkejut saat diberitahu dalam draf aturan itu pekerja tidak lagi diperbolehkan
               mengajukan gugatan saat di-PHK sepihak dan tidak mendapat pesangon.

               "Saya kan buruh juga, nanti bakal susah kalau di-PHK," katanya.

               "Pemerintah kan seharusnya berpihak ke rakyat, kalau begitu malah merugikan
               rakyat," tambahnya.

               Atun (45), tukang sapu jalanan Kelurahan Mampang.

               (CNN Indonesia/Melani Putri) Selain Atun, Vera (50) juga berpendapat serupa. Vera
               yang biasa berjualan kopi keliling menggunakan sepeda motor dan sering melewati
               gedung-gedung kementerian, berharap para pemangku jabatan dapat memperbaiki
               hidup rakyat miskin.

               "Kadang kalau lewat gedung menteri atau lewat gedung dewan, saya mikirnya
               mereka kerja buat rakyat miskin biar hidupnya makmur, sejahtera," ucapnya.

               Perempuan asal Cirebon ini pun sama, tidak pernah mendengar Omnibus Law
               Ciptaker yang ramai diperbincangkan.

               "Tidak, tidak pernah dengar saya," katanya.

               Dadan, seorang tukang kunci di wilayah Pela Mampang juga sama sekali tidak tahu
               apa itu Omnibus Law. Pemuda 20 tahun ini mengaku, meski masuk generasi
               milenial, dirinya tidak memiliki kemampuan untuk ikut memikirkan politik.

               "Saya kan nggak ngerti politik, Omnibus Law itu apa saya nggak tahu," katanya.

               Dadan (20), tukang kunci di kawasan Pela Mampang.

               (CNN Indonesia/Melani Putri) Saat mengobrol dengan CNNIndonesia.com soal
               Omnibus Law, laki-laki asal Garut ini berharap ada undang-undang yang
               mengupayakan fasilitas bagi 'pengusaha' pinggiran sepertinya.




                                                       Page 37 of 174.
   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43