Page 460 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 460

Praktek  penetapan  UMP/K  yang  dilakukan  oleh  para  Gubernur  yang  tidak  sesuai  dengan
              ketentuan regulasi atau pun SE Menteri Ketenagakerjaan sudah lama terjadi, dan ini menjadi hal
              yang biasa saja.

              Pak Joko Widodo (Jokowi) pernah mengklaim dirinya sebagai gubernur pertama di DKI Jakarta
              yang berani menaikkan upah minimum provinsi (UMP) hingga 44 persen. Pak Jokowi mengakui
              bahwa kebijakannya ini mendapatkan protes dari kalangan pengusaha. Demikian juga Ahok dan
              beberapa gubernur lainnya menaikan UMP tahun-tahun berikutnya tidak mengacu pada PP No.
              78 Tahun 2015, yang pada saat itu pun sudah dilabelkan sebagai Program Strategis Nasional.

              Saya  menilai  kewenangan  yang  diberikan  oleh  UU  No.  11  Tahun  2020  tentang  Cipta  Kerja
              (sebelumnya oleh UU No. 13 Tahun 2003) kepada para Gubernur untuk menetapkan UMP/K
              adalah kewenangan yang tidak perlu diintervensi oleh Menteri Ketenagakerjaan. Para Gubernur
              mengetahui  kondisi  ekonomi  wilayahnya,  dan  akan  menetapkan  UMP/K  sesuai  kondisi
              wilayahnya. Kalau pun ada rumus-rumus dalam PP No. 36 Tahun 2021 maka ketentuan tersebut
              hanya  sebatas  acuan  himbauan  saja,  bukan  sebagai  rumus  yang  mengatur  100  persen
              kewenangan Gubernur.
              Kalau Gubernur dipaksa mengikuti rumus-rumus di PP No. 36 Tahun 2021 maka bisa dikatakan
              kewenangan Gubernur di UU Cipta Kerja dikerdilkan oleh PP no. 36 Tahun 2021 dan Gubernur
              hanya sebagai "tukang stempel" saja. Kewenangan Gubernur dikebiri habis oleh rumus-rumus
              tersebut.
              Para Gubernur memiliki kepentingan terhadap penetapan UMP/K untuk mendukung konsumsi
              masyarakat  di  wilayahnya  sehingga  daya  beli  pekerja/buruh  yang  baik  dapat  menggerakan
              barang dan jasa di wilayahnya, dan pada akhirnya akan mendukung pertumbuhan ekonomi di
              wilayahnya.

              Kalau dianalisas varibel-variabel yang ada dalam rumus penetapan UMP/K, saya menilai dengan
              ketentuan penetapan UMP/K berdasarkan PP No. 36 tahun 2021, rata-rata konsumsi per kapita
              cenderung  akan  turun.  Sementara  rata-rata  jumlah  anggota  keluarga,  dan  rata-rata  jumlah
              anggota keluarga yang bekerja setiap tahunnya tidak berubah secara signifikan. Kondisi ini akan
              menyebabkan nilai Batas Atas (BA) akan relatif cenderung turun.

              Nilai BA yang relatif turun akan berdampak pada kenaikan UMP/K yang berada di bawah nilai
              inflasi. Simulasi kenaikan UMP/K 2022 yang telah terpublikasi menunjukkan kenaikan UMP/K
              mayoritas di bawah 1 persen dan ada juga yang tidak naik karena nilai BA di bawah nilai UMP/K
              eksisting. Kenaikan di bawah 1 persen atau tidak naik, sementara nilai inflasi di atas 1 persen
              memastikan  daya  beli  buruh/pekerja  dan  keluarganya  akan  menurun.  Upah  buruh/pekerja
              tergerus inflasi.

              Kondisi penurunan daya beli ini akan menyumbang pada kondisi penurunan rata-rata konsumsi
              per  kapita  di  suatu  wilayah,  yang  akan  dijadikan  data  acuan  untuk  penetuan  UMP/K  tahun
              berikutnya.  Potensi  penurunan  rata-rata  konsumsi  per  kapita  ini  pun  akan  dikontribusi  oleh
              penentuan upah minimum bagi pekerja di sektor usaha kecil mikro berdasarkan garis kemiskinan.

              Para Gubernur pastinya tidak mau daya beli buruh/pekerja tergerus inflasi sehingga rata-rata
              konsumsi  per  kapita  di  wilayahnya  cenderung  turun  terus.  Kondisi  ini  yang  akan  menjadi
              "lingkaran  setan"  bagi  perekonomian  propinsi  maupun  kabupaten/kota  di  wilayahnya.  Saya
              berharap para Gubernur bisa melaksanakan kewenangan yang diberikan oleh UU Cipta Kerja
              dengan melihat kondisi wilayahnya secara obyektif, tidak terpaku untuk mentaati rumus-rumus
              di PP No. 36 Tahun 2021.

              Pinang Ranti, 15 Nopember 2021.


                                                           459
   455   456   457   458   459   460   461   462   463   464   465