Page 581 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 581

berharap semua pihak mengikuti peraturan yang ada,"ujar kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha
              Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani.
              Dia menambahkan, adanya pengaturan penetapan pengupahan yang sah oleh pemerintah dan
              sesuai dengan kesepakatan dari para pekerja serta pengusaha, akan membuat permasalahan ini
              tidak  muncul  setiap  tahun.  "Hubungan  industrial  jauh  lenbih  baik,  produktif,  dan  mampu
              menciptakan lapangan kerja yang lebih luas," tutur Hariyadi.

              Ia pun menambahkan, kenaikan upah harus didasari oleh beberapa hal, seperti tingkat inflasi
              yang terjadi di daerah masing-masing. Untuk mengetahui hal tersebut, pihaknya melihat hasil
              dari perhitugan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai inflasi yang ada di provinsi masing-masing
              berdasarkan year on year.

              Selain itu, kata dia, dalam menentukan kenaikan upah harus didasari pertumbuhan ekonomi.
              Namun, Apindo juga menunggu hasil dari BPS mengenai produk domestik regional bruto (PDRB)
              di  masing-masing  wilayah.  Dengan  begitu,  penetapan  upah  minimum  tahun  depan  oleh
              pemerintah provinsi akan segera di tentukan.

              "Kita berharap BPS dapat merilis segera data tersebut secara terbuka. Sehingga tidak ada pihak
              yang berasumsi dalam menentukan kenaikan upah minimum kali ini. Sehingga federasi pekerja
              tidak menentukan kenaikan upah berdasarkan kebutuhan hidup layak (KHL)," papar Hariyadi.
              Menurutnya, meskipun BPS mencatat pertumbuhan ekonomi nasional saat ini sebesar 3,51% di
              kuartal III/2021, namun hal tersebut belum cukup untuk dijadikan faktor menaikkan UMP. "Kita
              berharap agar pemerintah dan dewan pengupahan dalam menetapkan UMP berpedoman pada
              PP No.36 2021 dan mengacu data resmi dari BPS provinsi menyangkut pertumbuhan ekonomi,
              inflasi, paritas daya beli, tingkat penyerapan tenaga kerja dan median upah," lanjutnya.

              Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila (FEB UP) Iha Haryani
              mengatakan, kalaupun UMP harus naik maka besaran yang optimal sekitar 1-2% sesuai dengan
              proyeksi  inflasi.  Dia  berpendapat,  kenaikan  upah  yang  terlalu  tinggi  seperti  usulan  kalangan
              pekerja sekitar 7-10% justru bisa merugikan para pekerja sendiri dan utamanya para pencari
              kerja. Karena kesempatan kerja yang terbuka akan semakin sedikit.


              ratna purnama/ rina anggraeni/ sabir laluhu/sindonews






























                                                           580
   576   577   578   579   580   581   582   583   584   585   586