Page 31 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 01 JULI 2020
P. 31

Pada  Selasa  (30/6),  aksi  lanjutan  penolakan  pekerja  asing  kembali  bergolak.  Sebanyak  105
              pekerja  asing  diperkirakan  akan  tiba  pada  Selasa  malam.  Massa  kembali  memblokade
              perbatasan Kendari-Konawe Selatan. Mereka melanjutkan aksi di simpang bandara.

              Menanamkan modal

              Total 500 pekerja asing didatangkan PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian
              Stainless Steel (OSS) dengan rencana tiga kali kedatangan. Dua perusahaan asing ini berada di
              kawasan mega industri Morosi, Konawe.

              PT VDNI merupakan anak perusahaan dari Jiangsu Delong Nickel Industry Co Ltd, yang berada
              di China. Sementara itu, PT OSS tercatat merupakan bagian dari Hongkong Xiangyu Hansheng
              Co Ltd dan Singapore Xiangyu Hansheng Pte Ltd. Kedua perusahaan ini telah menanamkan
              modal puluhan triliun rupiah membangun fasilitas pemurnian nikel.

              Aksi penolakan pekeija asing  di  Sultra  yang terus  berlangsung  dianggap  merupakan  bentuk
              kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah, terutama Pemprov Sultra. Selain itu, hal tersebut
              merupakan ekses dari trauma masyarakat akan tambang yang tidak menyejahterakan.

              "Jadi,  ini  merupakan  keresahan  mendalam  masyarakat  yang belum  selesai  bergulat  dengan
              pandemi Covid-19, dihadapkan pada masuknya pekerja China. Apalagi seperti kita semua tahu
              bahwa  asal  virus  tersebut  memang  dari  China,"  kata  Darmin  Tuwu,  sosiolog  Universitas
              Haluoleo.

              Kedatangan pekerja China ini, tutur Darmin, menjadi pemantik keresahan berlipat masyarakat.
              Pemerintah seperti menunjukkan ketidakberpihakan mereka terhadap warga sendiri. Selain itu,
              Darmin menjelaskan, masyarakat Sultra memiliki trauma terhadap sektor pertambangan. Sektor
              ini ternyata tidak memberikan kesejahteraan kepada masyarakat luas.

              "Kalaupun ada yang bisa dinikmati masyarakat, hanya jalan yang dibangun perusahaan. Tapi
              jalan itu untuk lewat truk dan material mereka (perusahaan) juga. Jadi, kalau ada manfaatnya
              itu pun sangat kecil yang bisa dirasakan orang banyak," ucap Darmin.

              Puncak gunung es

              Akademisi Fakultas Hukum Universitas Muham-mdiyah Kendari, Hariman Satria, menjabarkan,
              aksi penolakan masyarakat yang terus berlangsung hanya fenomena puncak gunung es dari
              permasalahan yang terjadi. Permasalahan demi permasalahan terus terjadi dan tidak pernah
              terselesaikan, dari permasalahan pekerja asing, pekerja lokal, hingga soal lingkungan.

              "Jadi,  pemerintah  gagal  dalam  memberikan  keyakinan  kepada  masyarakat  bahwa  dengan
              adanya  perusahaan  dan  para  pekerja  asing  ini  menjadi  energi  baru,  gizi,  bagi  ekonomi
              masyarakat. Pemerintah tidak pernah transparan dan menyimpan semua hal ini sendiri," ujar
              Hariman.

              Berkait hal ini, Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh mengusulkan audit keseluruhan terhadap
              PT  VDNI  dan  PT  OSS,  khususnya  terkait  tenaga  kerja.  Pemerintah  daerah  selama  ini  tidak
              mendapat informasi jelas terkait pekerja asing yang datang, visa yang dipakai, hingga keahlian
              yang dimiliki.
              "Kita punya pengalaman dari 49 pekerja yang datang dengan visa kunjungan. Kalau dengan
              visa kunjungan, artinya ada kompensasi 100 dollar AS yang tidak dibayar per orang per bulan,"
              kata Rahman.

              Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Keija Sultra Saemu Alwi mengatakan, data perusahaan
              ada  11.227  pekerja  lokal  yang  merupakan  karyawan  tetap.  Namun,  pihaknya  akan

                                                           30
   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36