Page 41 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 JUNI 2020
P. 41
Itu semua mereka lakukan demi nasionalisme atau kecintaan pada bangsa ini.
Lantas, mengapa ibarat air susu dibalas air tuba?
Mengapa beban pengusaha kembali ditambah?
Apakah pemerintah memang tidak punya alternatif lain untuk menggali sumber-
sumber anggaran di tengah pandemi Covid-19 ini?
Mengapa pemerintah terkesan panik, bahkan ibarat dewa mabuk, sehingga ada
kesan asal mengambil kebijakan, tanpa mempertimbangkan lebih matang
dampaknya, terutama bagi pekerja dan perusahaan swasta yang sudah dalam
kondisi megap-megap?
Padahal, banyak pengusaha yang juga sudah menanggung beban lain, yakni
memberikan subsidi bagi pekerja peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) Ketenagakerjaan.
Bila sudah begini, lantas apa yang harus dilakukan pengusaha? Apakah harus
melakukan PHK yang tentu saja akan menambah parah kondisi perekonomian
nasional?
Ataukah tetap bertahan dengan menanggung beban yang kian hari kian berat?
Sampai kapan akan sanggup bertahan?
Bila pandemi Covid-19 tak kunjung bisa diatasi, jumlah pekerja yang terkena PHK
atau dirumahkan diprediksi akan mencapi 7 juta, bukan 2 juta lagi.
Inilah dilema yang dihadapi pengusaha, yang entah akan berlangsung sampai
kapan.
Alhasil, jangan suguhi pengusaha dengan buah simalakama baru, termasuk dengan
PP 25/2020 tentang Tapera itu.
Memang, tujuan dari PP Tapera itu sangat baik. Akan tetapi ia lahir di saat yg
kurang baik, timing-nya kurang tepat, maka sebaiknya ditunda dulu.
Page 40 of 126.

