Page 44 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 06 NOVEMBER 2019
P. 44
Lebih buruk lagi, mari lihat daya serap industri didominasi pekerja yang
berpendidikan sekolah dasar. Menurut data BPS Februari lalu, porsinya sekitar
40,51%. Daya serap tenaga kerja terus meningkat, tetapi tidak signifikan. Pada 2015,
industri nasional menyerap sekitar 15,54 juta orang, lalu tiga tahun kemudian sudah
menampung 18 juta orang. Saat menjabat Menteri Perindustrian (Menperin)
Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa tiap tahun industri menyerap sekitar 672
ribu pekerja per tahun. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)
sendiri sudah merevitalisasi SMK. Ke depan, jumlah SMK akan lebih banyak
dibandingkan sekolah menengah atas (SMA). Sistem kurikulum akan mengikuti
kebutuhan industri. Ini mengubah dari supply base ke demand base.
Bahrun, Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud, mengatakan pihaknya bekerja sama
dengan beberapa perusahaan untuk pembentukan kurikulum dan praktik kerja
langsung. Sebut saja misalnya untuk pariwisata, Kemendikbud akan bekerja dengan
salah satu jaringan perhotelan besar di Indonesia. "Kami membuat kelas-kelas
industri," terangnya kepada SINDO Weekly, Kamis pekan lalu.
Sejalan dengan itu, Kemenaker pun memberdayakan sejumlah balai latihan kerja
(BLK). Di sana, para pencari kerja diberikan aneka keterampilan, antara lain
pengelasan, otomotif, dan teknologi informasi (TI). Tahun ini, Kemenaker punya
program pembangunan 1.000 BLK komunitas dengan dana sekitar Rp1 triliun. Pola
pelatihan di BLK itu akan menerapkan strategi skilling, up-skilling, dan re-skilling.
September lalu, Kemenaker meresmikan empat BLK di empat daerah, yakni Sidoarjo,
Banyuwangi, Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), serta Belitung. BLK Sidoarjo
dipersiapkan untuk spesialisasi industri manufaktur, sedangkan BLK Banyuwangi
untuk SDM di sektor pariwisata.
Page 43 of 142.

