Page 84 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 NOVEMBER 2019
P. 84
"Setiap saya mengantar makanan, saya selipkan kertas. Tulisannya tolong saya.
Lalu ada pengunjung yang membantu, dan saya bawa ke kamar mandi. Disana saya
pinjam telepon untuk menghubungi keluarga di Indonesia," ucapnya.
Setelah mendapatkan alat komunikasi, VA memberikan kabar kepada orangtuanya
jika ia telah dijebak dan berada di Malaysia. Orangtua dari VA langsung membuat
laporan ke pihak kepolisian.
"Akhirnya agensi ingin memulangkan saya. Dengan syarat saya disandera dulu.
Setelah ditebus Rp 35 juta baru dilepaskan,"ujarnya.
Ketika berada di Batam, VA kabur dari agensi bodong yang mengawalnya. Hal itu
terjadi setelah korban merubah penampilannya yang tomboy menjadi seorang
wanita feminim.
"Saya ketemu orang Indonesia di kapal. Saya ceritakan masalah di Malaysia. Lalu
saya dikasih baju dan pura-pura jadi istrinya. Disana saya berhasil lolos dari mata-
mata agensi di Batam,"jelasnya.
Setelah lolos, VA menghubungi keluarga yang ada di Batam. Ia langsung dijemput
dan kembali dipulangkan ke Indonesia.
"Satu bulan lebih saya disiksa disana,"ujarnya.
Berbeda dengan VA, NZH berhasil diselamatkan ketika ia diinapkan di salah satu
hotel di Batam, untuk memperpanjang izin paspor. Saat berada di hotel, NZH
menghubungi VA dan minta diselamatkan.
Kabid Humas Polda Sumatera Selatan, Kombes Pol Supriadi, mengatakan kasus VA
dan NZH sedang diproses. Selain itu, lanjutnya, penyidik juga akan berkoordinasi
dengan Polda Jatim.
"Pelaku diduga merupakan sindikat perdagangan manusia yang sudah memiliki
jaringan internasional," katanya.
Dia menambahkan, jaringan agensi TKI yang memberangkatkan VA dan NZH telah
berlangsung lama, karena banyaknya korban yang disebutkan oleh VA.
"Upaya yang dilakukan pelaku tergolong rapi, mulai dari pembuatan paspor,
pemalsuan identitas, hingga ada tim yang bertanggungjawab untuk mengawal
keberangkatan korban," tuturnya.
Page 83 of 130.

