Page 642 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 NOVEMBER 2021
P. 642

WAGUB DKI CARI JALAN TENGAH BURUH-PENGUSAHA SEBELUM TENTUKAN UMP
              2022
              Media Indo Pos, Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria atau Ariza mengaku
              belum bisa membeber besaran upah minimum provinsi (UMP) Jakarta 2022. Namun pihaknya
              akan  memberikan  jalan  terbaik  bagi  buruh  dan  pengusaha  dalam  penentuan  standar
              pengupahan minimum itu.

              “Kami  belum  bisa  menyampaikan.  Kami  Pemprov  tentu  ingin  memberikan  yang  terbaik  bagi
              semua, bagi buruh bagi kepentingan swasta dan tentu yang paling penting bagi kepentingan
              masyarakat itu sendiri dan baik untuk pemerintah,” katanya Di Jakarta, Rabu (17/11).

              Ariza mengaku penentuan UMP tak bisa diputuskan secara sepihak. Pihaknya wajib mendengar
              masukan dari pelbagai pemangku kepentingan.

              “Kita harus mendengarkan pendapat, masukan, harus dialog, harus diskusi dan ini yang terus
              dilakukan,” ujar Ariza.

              Upah RI Terlalu Tinggi? Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah mengatakan, kondisi
              upah minimum di Indonesia saat ini terlalu tinggi.

              Tingginya upah minimum ini menyebabkan pengusaha sulit menjangkau. Hal ini diukur dengan
              suatu metode yang disebut Kaitz Indeks.

              “Terdapat suatu metode yang secara internasional di gunakan untuk mengukur tinggi rendahnya
              suatu upah minimum di suatu wilayah, yaitu dengan membandingkan besaran upah minimum
              yang berlaku dengan median upahnya (kaitz indeks),” katanya, Jakarta, Selasa (16/11).

              Ida  melanjutkan,  besaran  upah  minimum  saat  ini  hampir  di  seluruh  wilayah  sudah  melebihi
              median upah. Bahkan Indonesia menjadi satu-satunya negara dengan Kaitz Index lebih besar
              dari 1, di mana idealnya berada pada kisaran 0,4 sampai dengan 0,6.

              “Kondisi upah minimum yang terlalu tinggi tersebut menyebabkan sebagian besar pengusaha
              tidak  mampu  menjangkaunya  dan  akan  berdampak  negatif  terhadap  implementasinya  di
              lapangan,” jelas Menaker.

              Hal tersebut, kata Ida, sudah sangat terlihat yaitu dengan upah minimum DIYadikan upah efektif
              oleh  pengusaha  sehingga  kenaikan  upah  cenderung  hanya  mengikuti  upah  minimum  tanpa
              didasari oleh kinerja individu.

              “Hal ini juga yang kemudian membuat teman-teman serikat pekerja atau serikat buruh lebih
              cenderung  menuntut  kenaikan  upah  minimum  dibandingkan  membicarakan  upah  berbasis
              kinerja atau produktivitas,” tegasnya pada awak media.(Red)



















                                                           641
   637   638   639   640   641   642   643   644   645   646   647