Page 637 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 NOVEMBER 2021
P. 637

KSPI BERENCANA MOGOK NASIONAL

              SERIKAT buruh protes keras atas rencana upah minimum provinsi (UMP) yang hanya akan naik
              dengan rata-rata nasional 1,09 persen pada 2022 mendatang. Dengan kenaikan yang jauh dari
              signifikan  ini,  mogok  nasional  sangat  mungkin  dilakukan.  Hal  itu  diungkapkan  oleh  Presiden
              Asosiasi Serikat Pekerja (ASPEK) Indonesia, Mirah Sumirat.

              “ASPEK  Indonesia  sebagai  federasi  serikat  pekerja  afiliasi  KSPI  (Konfederasi  Serikat  Pekerja
              Indonesia)  mendukung  penuh  rencana  KSPI  yang  akan  melakukan  mogok  nasional  secara
              konstitusional untuk menolak penetapan UMP 2022 yang tidak manusiawi,” ungkap Mirah melalui
              keterangan tertulis seperti dikutip Kompas. com, Rabu (17/11).

              “Ini semakin membuktikan bahwa pemerintah tidak mampu memberikan kehidupan yang layak
              kepada  rakyatnya,”  ia  menambahkan.  Mirah  menyatakan,  protes  keras  terhadap  pemerintah
              yang menetapkan kenaikan UMP 2022 berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun
              2021 tentang Pengupahan, yang merupakan aturan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor
              11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

              Peraturan itu dianggap justru bertentangan dengan UU Cipta Kerja. Padahal, UU Cipta Kerja
              sudah menunjukkan posisi yang tidak menguntungkan bagi kalangan buruh dan propengusaha.
              “Dalam UU Cipta Kerja kenaikan upah minimum dihitung hanya berdasar variabel pertumbuhan
              ekonomi atau inflasi (bukan akumulasi).

              Namun, dalam PP No. 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan, ada tambahan formula baru yang
              ditetapkan sepihak oleh Pemerintah, yang tidak diatur dalam UU Cipta Kerja, yaitu penyesuaian
              nilai upah minimum ditetapkan dalam rentang nilai batas atas dan batas bawah,” kritik Mirah.

              Ia menjelaskan, nilai batas atas upah minimum dihitung berdasarkan rata-rata konsumsi per
              kapita, rata- rata banyaknya anggota rumah tangga, dan rata-rata banyaknya anggota rumah
              tangga yang bekerja pada setiap rumah tangga. Sementara itu, nilai batas bawah upah minimum
              dihitung dari batas atas upah minimum dikalikan 50 persen.

              Hasil perhitungan itu, kenaikan UMP tertinggi terjadi di DKI Jakarta. Kenaikannya pun hanya Rp
              37.538 dibandingkan UMP 2021. DIYawa Tengah, hasil perhitungan yang sama menunjukkan
              bahwa UMP 2022 hanya naik Rp 14.032 dibandingkan tahun lalu.
              “Formula baru rentang nilai batas atas dan batas bawah dalam PP No. 36 tahun 2021 inilah yang
              membuat kenaikan upah minimum 2022 hasilnya justru di bawah inflasi ataupun pertumbuhan
              ekonomi.

              Padahal berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi tertinggi didapat
              oleh Maluku Utara dengan kenaikan 12,76 persen. Inflasi tertinggi Bangka Belitung 3,29 persen,”
              tambah Mirah. “Ini sangat memalukan di tengah kondisi rakyat yang semakin sulit dan daya beli
              masyarakat yang semakin rendah.
              Rakyat dipaksa untuk terus miskin. Apalagi pada tahun 2020 yang lalu, Menteri Ketenagakerjaan
              Ida Fauziyah telah memutuskan untuk tidak menaikkan upah minimum tahun 2021,” tutupnya.

              (kps)

              Caption:

              UNJUK RASA BURUH: Aksi unjuk rasa buruh Di Jakarta menuntut kenaikan UMR 2021, beberapa
              waktu lalu.



                                                           636
   632   633   634   635   636   637   638   639   640   641   642