Page 154 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 MARET 2020
P. 154

Pasalnya, saat ini, undang-undang tidak mengizinkan pengusaha untuk
               mempekerjakan buruh/pekerja dengan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT)
               selama lebih dari dua tahun untuk pekerjaan yang sifatnya permanen.


               "Namun, ketentuan tersebut akan dihapuskan jika RUU Omnibus ini disahkan. Ini
               akan mendorong pengusaha untuk terus-menerus mempertahankan pekerja dengan
               kontrak yang tidak menjamin keamanan kerja," terang dia.

               Keempat, Undang-undang Omnibus dinilai akan menghapus batasan untuk
               outsourcing buruh/pekerja dan perlindungan skema kesehatan dan pensiun. Sebab,
               saat ini outsourcing hanya diperbolehkan untuk lima jenis pekerjaan yang bukan
               bagian dari bisnis inti perusahaan.

               Namun, jika perubahan yang diusulkan disahkan, maka tidak akan ada lagi
               hambatan bagi pengusaha untuk melakukan outsourcing di semua kegiatan usaha
               mereka, yang menjadikan buruh/pekerja tidak memiliki keamanan kerja seperti
               buruh/pekerja bekerja dengan dasar per jam dst. Akibatnya, banyak pekerja tidak
               akan terlindungi dari skema perlindungan asuransi kesehatan dan pensiun.


               Kelima, Undang-undang Omnibus Law akan menyebabkan risiko kesehatan dan
               keselamatan yang signifikan. Sementara batas 40 jam kerja per minggu
               dipertahankan dalam UU Omnibus, batasan harian akan dihapus. Jam kerja
               maksimum yang diperbolehkan akan meningkat, yang dapat menyebabkan risiko
               kesehatan dan keselamatan yang signifikan.

               Keenam, konsultasi dengan serikat buruh/ serikat pekerja akan dihapus. Ia menilai,
               persyaratan untuk berkonsultasi dengan serikat buruh/ serikat pekerja guna
               meminimalkan hilangnya pekerjaan dan mengambil langkah-langkah demi
               mengurangi dampak buruk dari pemutusan hubungan kerja dalam hal terjadi
               restrukturisasi akan dihapus.

               Shoya mengatakan, setiap amandemen yang diusulkan dalam RUU ini seharusnya
               tidak boleh mengurangi hak dan manfaat yang sudah dijamin oleh peraturan dan
               perundang-undangan.

               Ia menyebutkan, mengurangi standar ketenagakerjaan hanya akan mendorong
               penyebaran pekerjaan berupah rendah, pekerjaan rentan dan menghambat suatu
               negara dalam mengembangkan pekerjaan dengan keterampilan tinggi yang lebih
               stabil.


               "Oleh karena itu, ITUC-AP mendesak pemerintah Indonesia untuk segera mencabut
               RUU Omnibus yang diusulkan dan menyerukan konsultasi terbuka dan konstruktif
               dengan mitra sosial dalam menyusun RUU yang diusulkan tersebut," tutur Shoya.












                                                      Page 153 of 175.
   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158   159