Page 48 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 MARET 2020
P. 48

Title          RIBUAN MASSA DI SURABAYA GELAR AKSI TOLAK OMNIBUS LAW
               Media Name     tempo.co
               Pub. Date      11 Maret 2020
               Page/URL       https://nasional.tempo.co/read/1318280/ribuan-massa-di-surabaya-gelar- aksi-tolak-
                              omnibus-law
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative















               Ribuan massa dari elemen buruh, mahasiswa, dan aktivis masyarakat sipil di Jawa Timur
               yang tergabung dalam Gerakan Tolak  Omnibus Law  (Getol) menggelar aksi di Bundaran
               Waru, Surabaya, Rabu, 11 Maret 2020. Mereka mendesak pemerintah dan DPR mencabut
               Rancangan Undang-Udang Cipta Kerja.

                Dari pantauan Tempo, massa dari berbagai daerah itu mulai memadati Bundaran Waru
               sekitar pukul 13.00. Mereka datang berkelompok dengan menggunakan minibus dan sepeda
               motor. Di sana mereka menggelar mimbar bebas menyuarakan penolakan terhadap
               rancangan undang-undang sapu jagat tersebut.


                Ketua Serikat Pekerja Kimia-Energi dan Pertambangan-Konferensi Serikat Pekerja
               Indonesia (SPKEP-KSPI), Sunandar, mengatakan Bundaran Waru dipilih sebagai tempat aksi
               karena strategis untuk bisa menyampaikan kepada masyarakat umum bahwa aturan
               omnibus law yang digagas pemerintah harus ditolak.


                "Kami bersama Getol dan elemen masyarakat serentak melakukan aksi agar pemerintahan
               Jokowi dan DPR RI betul-betul mempertimbangkan pasal-pasal di omnibus law," kata
               Sunandar kepada awak media. Dia menyebutkan setidaknya ada sejumlah poin di aturan
               omnibus law yang merugikan dan mengkerdilkan hak-hak buruh.

                Berdasarkan kajian yang dilakukan Getol, RUU Cipta Kerja di antaranya menghilangkan
               status pekerja tetap. Akibatnya, upah minimum pekerja akan hilang dikarenakan sistem
               fleksibilitas tenaga kerja serta sistem pengupahan berbasis jam kerja yang cenderung
               eksploitatif. Jaminan sosial juga berpotensi hilang akibat adanya fleksibilitas kerja.

                RUU yang sebelumnya bernama Cipta Lapangan Kerja itu juga dianggap merugikan pekerja
               perempuan. Hak perempuan terutama untuk cuti haid, waktu istirahat untuk ibadah, dan
               cuti melahirkan dihilangkan, sehingga meskipun ada larangan pemutusan hubungan kerja
               terkait hal tersebut namun banyak peluang yang bisa digunakan pengusaha untuk
               melakukan pemotongan upah.


                Di samping menindas buruh, RUU ini dinilai berpotensi mengancam ekologi lingkungan.
               Sebab, seluruh kewenangan di dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
               menjadi kewenangan pemerintah pusat sehingga menimbulkan pembatasan akses
               masyarakat terhadap informasi, partisipasi, dan keadilan dalam pengambilan keputusan..





                                                       Page 47 of 175.
   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52   53