Page 108 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 DESEMBER 2019
P. 108
Dirinya mengaku sangat miris dengan sejumlah tragedi kasus kecelakaan kerja ternyata
sejumlah korban belum menjadi peserta BPJAMSOSTEK. "Kita tahu bersama peristiwa Lion
Air jatuh, pabrik mercon terbakar di Tangerang, sejumlah pekerjanya tanpa dilindungi
program Jaminan Sosiahl Ketenagakerjaan," ujarnya.
Padahal kalau hitung-hitungan, iuran menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan tidaklah
mahal. Karena iuran yang diberlakukan menyusuaikan kemampuan penghasilan pekerja.
"Peserta yang meninggal biasa ahli waris mendapatkan Rp 24 juta, padahal kalah dihitung
dari premi pekerja informal misalnya Rp 24 juta itu baru tercapai setelah iuran 294 tahun,"
tuturnya.
Sedangkan untuk pemulihan kecelakaan kerja, peserta dibiayai tanpa batas. "JKK itu
unlimited cost berapun akan dicover. Kami sekarang lagi menangani pemulihan tukang ojek
online, kasus gegar otak sampai biaya Rp 1,8 miliar terus dirawat sampai dinyatakan
sembuh oleh dokter," katanya.
Jika peserta meninggal dunia karena kecelakaan kerja, ahli waris menerima santunan tunai
48 kali upah peserta. "Program ini sebagai wujud hadirnya negara untuk melindungi seluruh
pekerja," ujar Cotta.
Begitu pula manfaat berikutnya adalah JHT dan JP. "Jaminan Pensiun di sini sama dengan
pensiun PNS yang turun sampai ahli waris," ungkapnya. Dikatakan pula, ada manfaat
beasiswa untuk anak peserta yang meninggal dunia. "Sekarang total beasiswa sampai Rp
173 juta untuk dua anak pekerja.Pembiayaan mulai dari anak SD hingga perguruan tinggi,"
bebernya.
Yang terbaru, ada program vokasi untuk peserta yang kena PHK. "Kita upgrade
kemampuannya agar terserap di dunia kerja yang baru," tegasnya.
Sementara itu Sekretaris Ditjen Cipta Karya T. Iskandar mengatakan pihaknya tertarik untuk
menjadi peserta BPJAMSOSTEK karena manfaatnya. Rencananya baik karyawan ASN
maupun non-ASN akan segera mendaftar peserta BPJAMSOSTEK.
"Sementara ini karyawan hanya memegang kartu BPJS Kesehatan. Nah, lalu bagaimana
dengan perlindungan kecelakaan kerja. Untuk itulah Ditjen Cipta Karya mengkaji manfaat
dari program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan," paparnya. Iskandar mengaku perlindungan
kecelakaan kerja memang menjadi kebutuhan dari karyawan Ditjen Cipta Karya yang relatif
memiliki risiko tinggi dalam bertugas. "Beberapa waktu lalu teman-teman dalam rangka
tugas percepatan kegiatan memonitor Provinsi Sumatera Selatan. Tetapi pulang ada yang
meninggal dunia," ungkapnya.
Apalagi Iskandar mengaku mendapat informasi iuran BPJAMSOSTEK tidaklah mahal."Kira-
kira iurannya hanya Rp 22 ribu, itu kecil. Tapi bukan masalah kecilnya iuran, tetapi kita
harus lebih perhatikan bagaimana mempunya program perlindungan untuk kenyamanan
kita bekerja," cetusnya.
Kakacab BPJAMSOSTEK Jakarta Cilandak Puspitaningsih menyatakan pihaknya siap
melayani akuisisi kepesertaan seluruh pegawai non-ASN Ditjen Cipta Karya maupun di
lingkungan Kementerian PU PR pada umumnya.
Page 107 of 110.

