Page 245 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 MEI 2020
P. 245

Dalam pemeringkatan ini, terhitung ada ratusan ribu ABK Indonesia di kapal-kapal
               penangkap ikan berada dalam perangkap perbudakan modern. Jika kondisi tersebut
               masih berlangsung sampai sekarang, maka situasi memang belum berubah dan ini
               tentu sangat menyedihkan.


               Menurut Wahyu, pemerintah Indonesia pernah terlibat dalam upaya pemerangi
               perbudakan di sektor kelautan, terutama pada jaman Menteri Kelautan dan
               Perikanan, Susi Pudiastuti. Namun inisiatif tersebut lebih banyak menyangkut soal
               praktek ini di perairan Indonesia, dipicu kasus perbudakan di kapal ikan di perairan
               Benjina, kepulauan Maluku.

               Inisiatif ini juga tidak meluas pada nasib pekerja migran Indonesia sebagai ABK di
               kapal-kapal pencari ikan berbendera asing yang beroperasi melintas negara. Inisiatif
               ini pun tidak mendapat dukungan signifikan dari Kementerian Ketenagakerjaan,
               Kementerian Perhubungan atau Badan Penempatan dan Perlindungan (BNP2TKI)
               waktu itu, sekarang menjadi BP2MI.


               Dalam perkara ini Kementerian Luar Negeri juga mengalami kesulitan dalam
               penanganan kasus terkait juridiksi perkara. Bisa dibayangkan jika kasus terjadi di
               kapal pencari ikan berbendera A, pemiliknya adalah warga negara B dan kasusnya
               terjadi di lautan dalam otoritas negara C atau di laut bebas. Namun apapun
               situasinya seharusnya negara hadir dalam memberikan perlindungan terhadap anak
               buah kapal Indonesia.

               Kerentanan para pekerja migran Indonesia di sektor kelautan dan perikanan juga
               dipicu oleh ketiadaan instrumen perlindungan yang memadai sebagai payung
               perlindungan bagi mereka.


               Meskipun UU Nomor 18/2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia
               mengamanatkan adanya aturan khusus mengenai PMI di sektor Kelautan dan
               Perikanan, namun hingga saat ini aturan turunan tersebut belum terbit.

               Bahkan terlihat ada kecenderungan berebut kewenangan antara Kementerian
               Perhubungan, Kementerian Ketenagakerjaan dan BP2MI. Politik luar negeri dan
               diplomasi juga belum maksimal dalam memperjuangkan penegakan hak asasi
               pekerja migran di sektor kelautan dan perikanan, terkait dengan implementasi dan
               komitmen antar negara dalam pelindungan pekerja di sektor kelautan.

               Dalam kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dialami ABK Indonesia di
               kapal berbendera Republik Rakyat Tiongkok, Kementerian Luar Negeri RI telah
               mengeluarkan sikap namun hingga saat ini belum ada respons dari Kementerian
               Ketenagakerjaan dan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.

               Migrant Care menilai respons Kementerian Luar Negeri RI bersifat normatif namun
               belum menukik pada pokok persoalan apakah sudah ada desakan bagi investigasi
               pelanggaran hak asasi manusia, juga belum ada pernyataan tegas untuk
               memastikan pemenuhan hak-hak ABK tersebut..





                                                      Page 244 of 313.
   240   241   242   243   244   245   246   247   248   249   250