Page 55 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 28 AGUSTUS 2019
P. 55
sebagai TKI Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) melalui perusahaan pengerah
jasa TKI PT Arunda Bayu, dan selama di Arab Saudi Tuti bekerja di kota Thaif, di
rumah majikan bernama Naif Al Oetaibi.
Kasus Tuti ini mencuat ke permukaan sekitar tahun 2010. Tuti divonis hukuman
mati oleh mahkamah/pengadilan Arab Saudi di tingkat pertama hingga mahkamah
akhir/tertinggi pada Juni 2011 memperkuat vonis/tuduhan bahwa Tuti telah
membunuh majikan, namun pembunuhan tersebut sebetulnya dilakukan tanpa
suatu kesengajaan kecuali semata-mata melakukan pembelaan diri atas upaya
pemerkosaan majikan terhadap dirinya, apalagi Tuti sendiri kerap mendapatkan
perlakuan tidak senonoh berupa pelecehan seksual dari majikannya.
Upaya pembelaan kepada Tuti, sang TKI naas ini, pun telah dilakukan dengan ujung
tombak melalui Perwakilan RI di luar negeri (KBRI/KJRI) dengan cara menyewakan
pengacara setempat, dan peran ini tidak dilakukan sendirian oleh perwakilan RI
tetapi dengan melibatkan kerjasama lembaga di Indonesia yang juga memfasilitasi
pelayanan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri, yakni Badan Nasional
Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI).
TKI Tak Urung Terselamatkan
Hanya saja, sebagaimana kasus-kasus lain yang meliputi persoalan hukum TKI
utamanya dalam kasus ancaman hukuman mati (akibat tuduhan pembunuhan
majikan/keluarga majikan), maka kerap terjadi nasib TKI tak urung terselamatkan,
meski pun ada pula kasus TKI lain yg terselamatkan dbebaskan dari ancaman
hukuman mati seperti terjadi pada TKI Darsem asal Subang, Jawa Barat atau TKI
Wilfrida asal Nusa Tenggara Timur (NTT). Darsem adalah TKI yang bekerja di Arab
Saudi sedangkan Wilfrida merupakan TKI yang bekerja di Malaysia.
Apakah yang sebenarnya terjadi, sehingga TKI kita di luar negeri yang menjalani
kasus hukuman mati dengan berbagai latarbelakang penyebab kasusnya sulit
terselamatkan baik dari penerapan eksekusi hukuman mati ataupun dengan cara
membayar uang denda (diyat)? Apakah pembelaan yang dilakukan dengan
menyewa pengacara di negara setempat akibat kurang berwibawa atau tidak
memiliki pengaruh keahlianprofesi yang hebat terhadap klien TKI yang dibelanya,
ataukah karena sistem hukum di negara setempat yang memang sulit untuk
membuat sang TKI lepas/bebas dari kasusnya?
Agaknya, memang, baik kasus maupun sistem hukum yang ada di negara setempat
utamanya di Arab Saudi, dalam kasus pembunuhan oleh TKI terhadap majikan atau
keluarga majikan, hanya cenderung menyebabkan TKI atau pengacaranya kerap
kesulitan dan tak bisa berbuat banyak dalam mengupayakan
pembelaan/pembebasan, kecuali sebatas menjalani/mendampingi persidangan di
mahkamah awal hingga ke tingkat mahkamah utama/tertinggi di mana TKI terus
terkena tuduhan dan bahkan ancaman hukuman mati, sehingga apabila keluarga
korban tidak memaafkan---dalam kasus di Arab Saudi--maka pilihan untuk
membayar denda pun tidak lagi diprioritaskan dan TKI pun tetap terancam untuk
menjalani eksekusi hukuman mati (pancung). Lain halnya jika keluarga korban
Page 54 of 93.

