Page 56 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 28 AGUSTUS 2019
P. 56

memberi keringanan dengan memaafkan pelaku dan bersedia mengganti kasusnya
               dengan bentuk pembayaran denda (diyat) yang jumlahnya disepakati oleh keluarga
               korban.

               Di luar itu, akar permasalahan dalam kasus TKI yang mengalami ancaman hukuman
               mati akibat tuduhan pembunuhan majikan/keluarganya, juga patut dipertimbangkan
               menjadi penyebab tak langsung adalah terkait sistem rekrut calon TKI sejak di
               tanah air, yang sepenuhnya dilakukan oleh perusahaan pengerah jasa TKI.
               Perekrutan model sepihak ini pada umumnya hanya menempatkan perusahaan
               pengerah jasa TKI terlalu bebas dan tidak mengikuti berdasarkan kewenangan
               aturan main ataupun dengan mengedepankan aspek kepatuhan terhadap
               perundang-undangan dalam mengupayakan proses penempatan dan perlindungan
               TKI di luar negeri, terutama terhadap kewenangan yang dimiliki oleh Badan
               Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). Dalam kaitan inilah TKI
               sektor domestik di luar negeri selamanya diposisikan sebagai korban.


               Akibat mengabaikan peran dan fungsi BNP2TKI ini pula, pada akhirnya berbagai
               permasalahan TKI muncul baik saat proses pra penempatan, penempatan, atau saat
               masa perlindungan TKI di luar negeri. Inilah akibat sistem rekrut calon TKI sudah
               bermasalah dariawal karena pelaku  usaha cenderung berkiblat untuk
               mendahulukan keuntungan/kepentingan perusahaan pengerah jasa TKI, dan pada
               sisi lain justru merusak kemartabatan TKI untuk mendapatkan perlindungan yang
               optimal baik hak-hak ataupun pembelaan atas kasus-kasusnya dengan sebenar-
               benarnya.


               Tentu saja diharapkan, karena kasus-kasus TKI pada umumnya terjadi meliputi para
               TKI sektor domestik/rumah tangga, maka dengan mengacu kepada Undang-undang
               baru No 18/2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, maka ke depan
               harus terus diupayakan skala prioritas dengan memperkuat penempatan TKI sektor
               formal berpendikan/berkeahlian, sehingga secara perlahan akan mampu
               mengurangi penempatan TKI sektor domestik/rumah tangga yang memang rawan
               denganmasalah hukum/kasus hukum/risiko penganiyaan baik kekerasan seksual
               ataupun fisik.

               Sedangkan dengan menggesa penempatan TKI sektor formal berpendikan/
               berkeahlian maka dengan sendirinya langkah pemartabatan TKI akan mudah
               diselenggarakan/terwujud selain hal itu akan mencipatakan rasa aman bagi TKI itu
               sendiri, termasuk bagi penyelenggara negara yang mengurus TKI dan juga untuk
               pihak pemerintah RI di sejumlah negara penempatan melalui wadah perwakilan RI
               masing-masing.
















                                                       Page 55 of 93.
   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60   61