Page 97 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 OKTOBER 2019
P. 97

PHK karena resesi tidak diatur dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang
               Ketenagakerjaan, tetapi resesi bisa ditafsirkan sebagai bentuk efisiensi, sehingga
               bisa diterapkan Pasal 164 ayat (3) UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,
               di mana aturan tersebut mengatur bahwa pekerja berhak atas dua kali ketentuan
               Pasal 156 ayat (2), uang penghargaan masa kerja sebesar satu kali ketentuan Pasal
               156 ayat (3), dan uang penggantian hak sesuai Pasal 156 ayat (4).

                Mungkin perusahaan akan merasa berat untuk memenuhi kompensasi di atas,
               karena itu dalam RUU Ketenagakerjaan masalah pesangon diisukan akan dihapus.
               Inilah yang menjadi polemik karena Serikat Pekerja/Serikat Buruh menolak jika
               pasal penghapusan pesangon diberlakukan dalam RUU Ketenagakerjaan.


                Persoalan lain, ketika perusahaan tidak mau memberikan hak-hak pekerja sebagai
               konsekuensi terjadinya PHK. Permasalahan  disputes  tersebut mengakibatkan
               pekerja harus menuntut hak-haknya melalui lembaga penyelesaian hubungan
               industrial yang dimulai dari perundingan bipartit, mediasi, dan kemudian pengadilan
               hubungan industrial.

                Tidak hanya sampai di pengadilan hubungan industrial, tetapi sampai pada tingkat
               kasasi ke Mahkamah Agung (MA) hanya untuk mencari keadilan atas hak-hak
               pekerja tersebut. Tentu bukan waktu yang pendek, melainkan memakan waktu
               yang cukup lama. Karena itu untuk terciptanya penyelesaian hubungan industrial
               yang cepat, efisien, dan biaya murah, MA kemudian mengeluarkan SE Nomor 3
               tahun 2018 yang pada intinya dalam perkara perselisihan hubungan industrial tidak
               ada Peninjauan Kembali ke MA.


                Masalah lainnya terkait dengan eksekusi atas putusan pengadilan hubungan
               industrial. Jika pengusaha memang tidak ada uang atau aset yang bisa disita untuk
               memenuhi hak-hak pekerja, maka hal itu menjadi persoalan tersendiri, karena
               dianggap putusan hanya memenangkan pekerja di atas kertas, namun tidak
               memiliki implikasi apa-apa.

                Karena itu dalam RUU Ketenagakerjaan diharapkan agar ada pengaturan khusus
               yang dapat mengamankan hak-hak pekerja yang menjadi korban PHK jika ada
               pengusaha yang tidak mau memenuhi hak-hak pekerja atas PHK yang dilakukan.

                Meskipun Indonesia belum resesi karena tingkat pertumbuhan ekonomi masih 5%,
               namun tidak boleh merasa aman dengan kondisi tersebut. Harus ada langkah-
               langkah strategis agar kejadian di Turki tidak berimbas. Kondisi dalam negeri juga
               harus stabil karena para investor selalu melirik negara dengan kondisi yang stabil
               karena terkait dengan rasa aman dalam berinvestasi.


                Rolas Tampubolon  praktisi hubungan industrial dan hukum ketenagakerjaan
               (mmu/mmu)  Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
               tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri?  Klik di sini
               sekarang!  resesi  resesi ekonomi  phk  pertumbuhan ekonomi  investasi.






                                                       Page 96 of 106.
   92   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102