Page 103 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 JANUARI 2020
P. 103

Teknologi memang tidak dapat dihindari karena membawa banyak manfaat. Namun
               menurut Mirah, sebagai negara dengan sumber daya manusia yang besar,
               seharusnya pemerintah juga melihat kesejahteraan pekerja yang terdampak.

               Dalam permasalahan jalan tol misalnya, Mirah menyebut negara dengan
               berpenduduk banyak seperti China ternyata memiliki strategi sendiri dalam
               penggunaan teknologi di gerbang tol. Mereka tidak 100% menggunakan mesin
               karena masih ada gerbang tol yang dijaga manusia.

               ( Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Bidang Perindustrian, Johnny
               Darmawan, juga menyadari bahwa pelaku usaha tidak dapat menghindari industri
               4.0. Namun dia meminta perkembangan industri itu tetap harus dilihat kelebihan
               dan kekurangannya. Menurutnya, perusahaan harus tetap memikirkan program
               padat karya karena 60% pekerja di Indonesia lulusan SD dan SMP atau sekitar 76
               juta masyarakat Indonesia.

               "Pemerintah dan pihak swasta jangan hanya memikirkan keuntungan jika tidak
               menggunakan tenaga manusia. Jangan hanya berpikiran jika mempekerjakan
               manusia akan lebih repot. Mereka harus turut bersama-sama negara
               menyejahterakan masyarakat," jelasnya.

               Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay menilai pemerintah harus cepat
               tanggap dalam perubahan yang akan terjadi. Sebab perubahan ini bukan yang
               pertama dalam sejarah perindustrian. Revolusi industri terjadi di mana pekerjaan
               yang dilakukan manusia digantikan mesin. "Ini harus cepat ditanggapi. Dulu hal itu
               menyebabkan daya saing antar negara semakin tinggi dan menimbulkan hegemoni
               kolonialisme. Itu jangan sampai terjadi di Indonesia," ungkapnya.

               Adapun untuk yang sudah di-PHK, Saleh meminta pemerintah segera menciptakan
               lapangan kerja baru melalui para investor yang datang ke Indonesia. Program
               pemerintah untuk meningkatkan kemampuan para pekerja juga harus segera
               dilakukan.

               "Pendataan harus akurat sehingga benar-benar mereka mendapat vokasi yang
               sesuai. Itu harus segera diantisipasi setelah diputus kerjanya, sebab bagaimanapun
               juga hidup harus terus berjalan," ujarnya.

               Plt Dirjen Pembinaan Penempatan dan Perluasan Kerja, Kemenaker, Aris Wahyudi
               mengatakan bahwa pemerintah bertanggungjawab kepada angkatan kerja yang
               menjadi korban PHK. Salah satunya dengan pemasifan pelatihan vokasi dan
               mendorong pengembangan soft skill secara inklusif dalam penyelenggaraan diklat
               untuk angkatan dan calon angkatan kerja.

               "Dalam masifikasi (pemasifan) pelatihan vokasi dikenal program tripple skilling, yaitu
               skilling untuk fresh graduate, upskilling untuk pekerja yang akan meningkatkan
               kompetensi atau upgrading, dan reskilling untuk korban PHK yang akan alih
               profesi," papar Aris.



                                                      Page 102 of 163.
   98   99   100   101   102   103   104   105   106   107   108