Page 623 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 DESEMBER 2021
P. 623

KEMNAKER: UM TETAP MENGACU KE UU CIPTA KERJA

              Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan, regulasi mengenai upah minimum regional
              (UMR) tetap mengacu pada peraturan-peraturan baru turunan Undang-Undang Cipta Kerja.

              Penegasan ini disampaikan Menaker Ida terkait desakan revisi perhitungan UMR 2022 setelah
              Mahkamah Konstitusi (MK) mengeluarkan keputusan terkait uji formil beleid tersebut.

              “Dengan  dinyatakan  masih  berlakunya  UU  Cipta  Kerja  oleh  MK,  sebagaimana  yang  telah
              disampaikan  Bapak  Presiden  beberapa  waktu  yang  lalu,  seluruh  materi  dan  substansi  serta
              aturan sepenuhnya tetap berlaku tanpa ada satu pasal pun yang dibatalkan oleh MK. Atas dasar
              itu, berbagai peraturan pelaksana UU Cipta Kerja yang telah ada saat ini, termasuk pengaturan
              tentang pengupahan masih tetap berlaku”, ujar Menaker Ida melaui Siaran Pers Biro Humas
              Kemnaker, Kamis (2/12/2021).

              Menaker Ida mengatakan bahwa peraturan pelaksanaan klaster ketenagakerjaan yang menjadi
              mandat UU Cipta Kerja telah selesai dan diterbitkan sebelum putusan MK diumumkan.

              Alhasil,  proses  pengambilan  kebijakan  ketenagakerjaan  saat  ini  harus  tunduk  pada  aturan
              tersebut, tidak terkecuali mengenai pengupahan.

              “Oleh karenanya, saya kembali meminta kepada semua pihak khususnya para Kepala Daerah
              untuk  mengikuti  ketentuan  pengupahan  sebagaimana  diatur  dalam  PP  36/2021.  Saya  juga
              mengingatkan bahwa dalam PP tersebut tidak hanya mengatur tentang UM saja, tetapi juga
              terkandung  aturan  struktur  dan  skala  upah  yang  harus  diimplementasikan  oleh  pengusaha”,
              tegas Menaker Ida.

              Lebih lanjut Menaker Ida menambahkan terkait dengan UM sendiri merupakan instrumen jaring
              pengaman bagi pekerja/buruh yang tidak boleh dibayarkan upah/gajinya di bawah nilai UM yang
              berlaku  pada  satu  wilayah.  UM  juga  hanya  berlaku  bagi  pekerja/buruh  dengan  masa  kerja
              maksimal 12 bulan.

              UM tingkat provinsi atau UMP ditetapkan oleh Gubernur setiap tahunnya. Gubernur juga dapat
              menetapkan  upah  minimum  kabupaten/kota  (UMK)  dengan  catatan  rata-rata  pertumbuhan
              ekonomi  kabupaten/kota  dalam  3  tahun  terakhir,  lebih  tinggi  dari  rata-rata  pertumbuhan
              ekonomi  provinsi,  atau  nilai  pertumbuhan  ekonomi  dikurangi  inflasi  kabupaten/kota  yang
              bersangkutan selama 3 tahun terakhir selalu positif dan lebih tinggi dari provinsi.

              Selanjutnya,  dalam  penetapan  UMK,  Gubernur  dapat  meminta  pertimbangan  Dewan
              Pengupahan Provinsi. UMK tersebut ditetapkan setelah UMP ditetapkan dan harus lebih tinggi
              dari UMP. Jika syarat tidak terpenuhi, maka Gubernur tidak dapat menetapkan UMK.

              “Formula UMP dan UMK pada PP 36/2021 ditujukan agar kesenjangan upah minimum antar
              wilayah, baik antar Provinsi maupun antar Kabupaten/Kota tidak semakin melebar. Kita optimis
              dengan mengatasi jurang kesenjangan ini, daya saing akan terungkit, iklim investasi dan dunia
              usaha  kian  bergairah  yang  berdampak  pada  penciptaan  dan  perluasan  kesempatan  kerja.
              Ujungnya, tentu kembali pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

              Terakhir,  Menaker  Ida  menegaskan  bahwa  mediator  hubungan  industrial  dan  pengawas
              ketenagakerjaan  berkomitmen  dalam  mengawal  pelaksanaan  UM  2022  maupun  penerapan
              struktur skala upah (SUSU) di perusahaan.

              Mediator akan membantu serta memfasilitasi penyusunan SUSU, sedangkan Pengawas harus
              siap melakukan monitoring dan penegakan hukum khususnya di bidang pengupahan.



                                                           622
   618   619   620   621   622   623   624   625   626   627   628