Page 651 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 DESEMBER 2021
P. 651

Apalagi, kenaikan upah minimum yang ditetapkan pemerintah jauh lebih kecil dibanding angka
              perkiraan inflasi tahun 2022. Bank Indonesia (BI) memprediksi inflasi tahun 2022 mencapai 4
              persen.  Angka  inflasi  yang  sebesar  4  persen  dibandingkan  dengan  angka  kenaikan  upah
              minimum rata-rata yang sebesar 1,09 persen, dapat disimpulkan bahwa kenaikan upah minimum
              lebih  kecil  dari  kenaikan  harga  barang  dan  jasa  secara  umum  pada  tahun  2022  (tirto.id,
              19/11/2021).

              Kenaikan  UMP  yang  lebih  kecil  dari  inflasi  dapat  membuat  daya  beli  masyarakat  semakin
              menurun apalagi masih terdampak pandemi. Padahal, struktur Produk Domestik Bruto menurut
              pengeluaran masih didominasi oleh pengeluaran rumah tangga yakni 53,09 persen pada triwulan
              III/2021. Dengan demikian, upaya pemerintah memulihkan ekonomi akibat pandemi bisa jadi
              tidak berjalan mulus.

              Penetapan  upah  minimum  nyatanya  kurang  memuaskan  bagi  pekerja  di  beberapa  daerah.
              Sebagai contoh, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menetapkan UMP 2022
              naik 4,3 persen menjadi Rp.1.840.915,-.

              Kenaikan tersebut tidak terlalu signifikan dibandingkan beban biaya hidup keluarga yang harus
              ditanggung oleh pekerja. Apabila nilai UMP tersebut dibagi dengan garis kemiskinan Provinsi DIY
              tahun 2021 yang sebesar Rp.482.855,-.maka diperoleh hasil 3,8. Itu artinya upah minimum yang
              diterima  pekerja  di  provinsi  DIY  hanya  dapat  memenuhi  kebutuhan  pokok tidak  lebih  dari  3
              orang.
              Mekanisme  upah  minimum  ala  ekonomi  konvensional  ini  sebenarnya  bermasalah  dilihat  dari
              terbentuknya  kesepakatan  upah  antara  pihak  pengusaha  dan  buruh.  Dari  sudut  pandang
              keadilan ekonomi, seharusnya nilai upah sebanding dengan besarnya tingkat produktivitas yang
              dihasilkan pekerja.

              Penetapan upah minimum di satu sisi dimanfaatkan buruh-buruh ‘malas’ untuk memperoleh gaji
              maksimal  (meskipun  ini  sangat  jarang  terjadi).  Di  sisi  lain,  upah  minimum  kerap  digunakan
              pengusaha untuk menekan besaran gaji supaya tidak terlampau tinggi.
              Dalam perjalanannya, penerapan konsep konvensional ini masih menemui jalan buntu. Hal itu
              karena konsep/aturan yang dibuat manusia tentu ada kekurangan. Misalnya, upah yang diterima
              pekerja  masih  di  bawah  upah  minimum  dan  hak  pekerja  untuk  mendapat  jaminan  sosial
              (kecelakaan kerja, pemeliharaan kesehatan, hari tua, dan kematian) belum maksimal.
              Dalam Islam, hak-hak manusia telah dijamin oleh Allah SWT. Allah telah memberikan segala hal
              yang dibutuhkan untuk hidup di dunia ini, seperti oksigen untuk bernafas, air untuk diminum,
              tumbuhan dan hewan untuk dimakan. Lantas, mengapa masih ada majikan yang tidak memenuhi
              hak-hak pekerjanya?

              Menurut Islam, upah harus ditetapkan dengan cara yang layak tanpa merugikan kepentingan
              pemberi kerja dan pekerja. Mekanisme penentuan upah dalam Islam berasal dari faktor objektif
              dan  subjektif.  Objektif  berarti  upah  ditentukan  melalui  pertimbangan  tingkat  upah  di  pasar
              tenaga kerja.

              Subjektif  berarti  upah  ditentukan  melalui  pertimbangan  sosial  atau  nilai  kemanusiaan.
              Contohnya, tata cara pembayaran upah telah disebutkan dalam sebuah hadis. Dari Abdullah bin
              Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Berikanlah upah orang upahan sebelum
              kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah dan Imam Thabrani).

              Dari hadis tersebut dapat disimpulkan, Islam sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Lain
              halnya dengan konvensional yang memandang manusia sebagai barang modal.


                                                           650
   646   647   648   649   650   651   652   653   654   655