Page 10 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2020
P. 10

Semula,  tim  teknis  dibentuk  untuk  mencari  jalan  keluar  atas  buntunya  pembahasan  klaster
              ketenagakerjaan. Termasuk menindaklanjuti kebijakan Presiden Jokowi dan Ketua DPR RI yang
              menunda pembahasan klaster ketenagakerjaan.

              Dari unsur serikat buruh, mereka mewakilkan 15 anggotanya dalam tim teknis tersebut. Antara
              lain  dari  KSPI,  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (KSPSI),  Konfederasi  Serikat
              Buruh  Sejahtera Indonesia (KSBSI), hingga Federasi Serikat Pekerja Perkayuan dan Perhutanan
              Indonesia (FSP Kahutindo).

              Dalam perjalanannya, kata Said, tim ini bertemu untuk kali pertama pada Rabu (8/7/2020).
              Dalam  pertemuan  tersebut,  serikat  pekerja  yang  tergabung  di  dalam  Majelis  Pakerja  Buruh
              Indonesia (MPBI) menyerahkan satu konsep bersama draf sandingan  RUU Cipta Kerja  kepada
              pemerintah dan unsur Apindo maupun Kadin secara tertulis.

              Menurut  Said,  draf  itu  berisi  analisa  dan  pandangan  kalangan  buruh  mengenai  dasar
              penolakannya terhadap klaster ketenagakerjaan. Kemudian, juga mengusulkan agar Undang-
              undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dijadikan sebagai perlindungan
              kesejahteraan yang paling minimal bagi pekerja maupun buruh.

              Namun,  lanjut  Said,  saat  sidang  pertama  digelar,  secara  arogan  konsep  dan  draf  yang
              sebelumnya diserahkan kalangan buruh dikembalikan oleh unsur Apindo maupun Kadin.

              Hal itu diperparah dengan tidak mampunya Apindo dan Kadin menunjukan konsep yang mereka
              tawarkan atas pengembalian gagasan yang sebelumnya lebih dulu ditawarkan kalangan pekerja.

              "Ini menunjukan Apindo/Kadin tidak memahami esensi pembahasan tripartit dan mengingkari
              makna  take and give  yang pernah disampaikan oleh ketua umum mereka dalam rapat pertama.
              Bahkan amanat Presiden Jokowi pun diabaikan," tegas dia.

              Selanjutnya, dalam pertemuan kedua pada Jumat (10/7/2020), Kadin dan Apindo menegaskan
              bahwa pertemuan di dalam tim teknis tersebut tidak perlu ada keputusan dan kesepakatan.

              Alasannya, karena tim tersebut hanya sekadar untuk memberikan masukan.

              Menurut  Said,  pihak  Apindo  dan  Kadin  menyatakan  jika  rapat  tim  teknis  tersebut  bukan
              perundingan para pihak.

              Padahal, hasil pembahasan tim tersebut berupa rekomendasi untuk Presiden Joko Widodo.


              Di sisi lain, pernyataan Kadin dan Apindo juga diperburuk dengan sikap dari unsur pemerintah
              yang  diwakili  Kementerian  Ketenagakerjaan,  yang  menganggap  tim  teknis  tersebut  bukan
              perundingan dan tidak perlu ada kesepakatan atau keputusan apapun.

              Atas dasar itu, KSPI dan serikat buruh lainnya menolak sikap Apindo, Kadin, dan pemerintah
              karena tidak sesuai semangat yang diamanatkan Jokowi. Termasuk keinginan para buruh agar
              RUU Cipta Kerja pada klaster Ketenagakerjaan tidak merugikan dan mengeksploitasi buruh.


              "Sehingga tim teknis ini harus menghasilkan kesepakatan, baik pasal yang disetujui atau tidak,
              dan harus ada keputusan tim dalam bentuk rekomendasi untuk diserahkan kepada Presiden,"
              tegas dia.


                                                            9
   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15