Page 11 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2020
P. 11

"Biarlah  Presiden  yang  kemudian  memutuskan  yang  terbaik  untuk  bangsa  dan  rakyat  yang
              selanjutnya menjadi bahan dalam rapat di DPR RI," tambah Said.


              Diketahui,  DPR  akan  melanjutkan  pembahasan  RUU  Cipta  Kerja  pada  Masa  Persidangan  IV
              Tahun 2019-2020.

              RUU Cipta Kerja sebelumnya sempat mandek setelah Presiden Jokowi memutuskan menunda
              pembahasan klaster ketenagakerjaan.


              Empat alasan  Said mengungkapkan sejumlah alasan mengapa kalangan buruh keluar dari tim
              teknis yang membahas Omnibus Law RUU Cipta Kerja.

              "Pertama,  tim  tidak  memiliki  kewenangan  untuk  mengambil  keputusan  dan  kesepakatan
              apapun. Tetapi hanya mendengarkan masukan dari masing-masing unsur," ujar Said.


              Adapun masing-masing unsur yang dimaksud adalah unsur tripartit, yakni pemerintah, serikat
              pekerja, dan Apindo maupun Kadin.

              Alasan kedua, kata Said, unsur Apindo maupun Kadin dengan arogan mengembalikan konsep
              RUU usulan dari unsur serikat pekerja.

              Pihaknya  semakin  kecewa  lantaran  Apindo  maupun  Kadin  tidak  mau  menyerahkan  usulan
              konsep mereka secara tertulis.

              Menurut Said, arogansi yang ditunjukan Apindo maupun Kadin karena merasa di atas setelah
              mendapat dukungan dari unsur pemerintah, dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan.

              "Barangkali mereka merasa di atas angin karena merasa didukung oleh unsur pemerintah," kata
              Said.

              Kemudian alasan ketiga adalah ada kesan pembahasan akan dipaksakan selesai pada tanggal
              18 Juli 2020.

              Dengan jumlah pertemuan yang hanya empat hingga lima kali, serikat buruh memiliki dugaan
              ini hanya jebakan dan alat untuk mendapatkan legitimasi dari buruh.

              "Karena  tidak  mungkin membahas  pasal-pasal  yang  sedemikian  berat hanya  dalam  4-5  kali
              pertemuan," tegas dia.

              Terakhir, alasan buruh angkat kaki dari tim tersebut, yakni masukan yang disampaikan hanya
              sekedar  ditampung.  Tetapi  tidak  ada  kesepakatan  dan  keputusan  apapun  dalam  bentuk
              rekomendasi dalam menyelesaikan substansi masalah  omnibus law  .

              Padahal, lanjut Said, yang harus diselesaikan adalah substansi dari klaster ketenagakerjaan yang
              menghapus  upah  minimum,  yakni  Upah  Minimum  Kota/Kabupaten  (UMK),  Upah  Minimum
              Sektoral Kota/Kabupaten (UMSK) hingga memberlakukan upah perjam di bawah upah minimum.

              "Berdasarkan  4  alasan  di  atas,  kami  dari  KSPI,  KSPSI  AGN,  dan  FSP  Kahutindo  keluar  dan
              mengundurkan diri dari tim teknis Omnibus Law RUU Cipta Kerja Klaster Ketenagakerjaan,"
              tegas dia.



                                                           10
   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16