Page 222 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2020
P. 222

KECEWA, SERIKAT BURUH MUNDUR DARI TIM TEKNIS RUU CIPTA KERJA

              Jakarta -  Sejumlah  serikat buruh  dan pekerja menyatakan keluar dan mengundurkan diri dari
              tim teknis pembahasan  omnibus law  RUU Cipta Kerja  (Ciptaker)  Klaster Ketenagakerjaan
              yang dibentuk oleh Kementerian Ketenagakerjaan.
              "KSPSI AGN, KSPI, dan FSP Kahutindo memutuskan untuk keluar dan mengundurkan diri dari
              tim teknis RUU (Cipta Kerja)," kata Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said
              Iqbal seperti dikutip dari rilis resmi yang diterima  CNNIndonesia.com  pada Selasa (14/7).

              Ia menyebut ada 4 alasan pengunduran diri tersebut.

              Pertama,  tim disebut tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan dan kesepakatan
              apapun dan hanya mendengarkan masukan dari pemerintah dan pengusaha.

              Kedua    ,  sikap  kalangan  pengusaha  dianggap  arogan  dengan  mengembalikan  konsep  RUU
              usulan dari serikat pekerja dan tidak mau menyerahkan usulan konsep Apindo/KADIN secara
              tertulis.
              "Jika  hanya  sekedar  mendengarkan  masukan  dan  ngobrol-ngobrol  saja,  secara  resmi  kami
              sudah  menyampaikan  masukan  berupa  konsep  RUU  secara  tertulis  kepada  pemerintah  dan
              Apindo/KADIN, tetapi kemudian secara arogan konsep serikat pekerja dikembalikan," tutur Said.

              Menurut Said, sikap tersebut menyalahi prinsip tripartite dan norma-norma dalam dialog sosial
              yang  mengedepankan  kesetaraan,  kebebasan  berpendapat,  dan  saling  percaya  untuk
              mengambil keputusan bersama secara musyawarah dan mufakat.

              Ketiga    ,  kalangan  pekerja  dan  buruh  mengatakan  pihaknya  merasa  diburu-buru  untuk
              menyelesaikan pembahasan pada 18 Juli mendatang. "Dugaan ini hanya jebakan dan alat untuk
              mendapatkan  legitimasi  dari  buruh.  Karena  tidak  mungkin  membahas  pasal-pasal  yang
              sedemikian berat hanya dalam 4-5 kali pertemuan," lanjutnya.

              Keempat,  KSPI menilai tidak ada kesepakatan dan keputusan dalam bentuk rekomendasi dalam
              menyelesaikan substansi masalah  omnibus law.

              Ia bertutur bahwa masukan yang selama ini disampaikannya hanya sekedar ditampung.

              Padahal,  lanjutnya,  ada  banyak  substansi  dari  klaster  ketenagakerjaan  harus  diselesaikan
              seperti penghapusan upah minimum yaitu UMK dan UMSK dan memberlakukan upah per jam
              di bawah upah minimum, serta mengurangi nilai pesangon.
              Belum lagi soal penggunaan buruh alih daya (  outsourcing  ) dan buruh kontrak seumur hidup
              untuk semua jenis pekerjaan. Waktu kerja yang eksploitasi, penghapusan cuti dan hak upah
              saat cuti, dan masuknya TKA buruh kasar di Indonesia hanya sebagian dari pembahasan krusial
              yang selama ini belum terselesaikan.

              Oleh karena itu, ia menyebut pihaknya tidak bertanggungjawab atas hasil dari pembahasan tim
              saat ini yang diwakili oleh serikat pekerja Konferensi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI)
              bersama beberapa serikat pekerja yang lainnya.
              Senada, Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK Indonesia) menyatakan keluar dari tim teknis
              omnibus law  RUU Cipta Kerja Klaster Ketenagakerjaan.





                                                           221
   217   218   219   220   221   222   223   224   225   226   227