Page 269 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2020
P. 269

Kabar  bahwa  Sulasih  dirawat  di  rumah  di  Saudi  diketahui  dari  anaknya,  Anggi,  yang  telah
              meminta bantuan KJRI di Jeddah dan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) di kota tersebut.

              'Kami manusia, hormatilah kami': Perjuangan dan cita-cita para pekerja migran di Taiwan  'Kamu
              hanya pembantu', makian orang di Hong Kong yang sering dihadapi pekerja migran

              "Saya diperkosa lima kali seminggu": cerita seorang pekerja Indonesia di Taiwan  "Berdasarkan
              keterangan Anggi, kondisi Sulasih penuh dengan luka, kepala sepertinya dibenturkan dengan
              benda keras, telinga bengkak dan kedua tangannya ada bekas strika," kata Roland Kamal dari
              SBMI  Jeddah.  Anggi,  menurut  SBMI,  meminta  KJRI  Jeddah  memberikan  perlindungan  agar
              ibunya  mendapatkan  perawatan  dan  bisa  di  pulangkan  setelah  hak-haknya  sebagai  korban
              dipenuhi.

              Suib  Darwanto,  ketua  SBMI  Jeddah,  mengatakan  pejabat  KJRI,  Muhammad  Yusuf,
              membenarkan  kasus  ini  dan  KJRI  sudah  mengambil  langkah  agar  Sulasih  mendapatkan
              perawatan di rumah sakit. Sementara itu Roland Kamal mengatakan Sulasih masuk ke Saudi
              bukan sebagai tenaga kerja namun dengan visa ziarah dan berangkat pada November tahun
              lalu.

              "Kerja baru dua bulan sudah dapat perlakuan tidak enak dari majikan wanita, di waktu itu ibu
              Sulasih masih pegang telepon seluler, selang satu bulan sudah hilang kontak dengan keluarga,
              dan  baru  menghubungi  keluarga  lebaran  hari  pertama.  Itu  pun  didampingi  majikan
              perempuannya dan waktu dibatasi, sampai ada kabar ini," kata Roland mengutip informasi dari
              Anggi, putra Sulasih.

              SBMI mengatakan jika memang Sulasih masuk dengan visa ziarah, maka ini adalah pelanggaran,
              dan  pelakunya  harus  bertanggung  jawab.  Sejak  2011,  pemerintah  Indonesia  telah
              menghentikan pengiriman tenaga kerja migran, namun masih ada pekerja migran yang masuk
              dengan sejumlah cara. Dalam undang-undang tentang tindakan pemberantasan perdagangan
              orang disebutkan pelaku tindak pidana ini bisa dihukum penjara maksimal 15 tahun penjara
              serta denda Rp600 juta.




































                                                           268
   264   265   266   267   268   269   270   271   272   273   274