Page 267 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2020
P. 267

dan Kehutanan Indonesia (FSP Kahutindo) untuk keluar dari tim teknis  Omnibus Law Cipta
              Tenaga Kerja  (Ciptaker) klaster ketenagakerjaan.

              "Tim  teknis bentukan  Kemenaker  ini  ternyata  hanya  untuk  formalitas  dan  basa-basi.  Hanya
              untuk memberi kesan bahwa seolah-olah pemerintah sudah melibatkan serikat pekerja dalam
              pembahasan Omnibus Law Ciptaker," ujarnya Presiden Aspek Indonesia Mirah Sumirat, Selasa
              (14/7/2020).

              Mirah mengungkapkan tim teknis itu tidak melakukan pembahasan pasal per pasal yang selama
              ini  menjadi  keinginan  dari  serikat  pekerja.  Dia  menilai  pemerintah  telah  tersandera  oleh
              kepentingan pemodal atau investor.

              "Gagal dalam memberikan jaminan perlindungan kesejahteraan kepada rakyat. Akan tetapi lebih
              berpihak pada kepentingan pengusaha," kritiknya.

              Serikat pekerja dalam tim teknis itu diwakili beberapa organisasi, seperti KSPI, KSPSI Andi Gani,
              KSPSI Yorrys Raweyai, KSBSI, KSPN, Sarbumusi, FSPPN, dan FSP Kahutindo. Sedangkan, para
              pengusaha diwakili oleh Apindo dan Kadin.

              Mirah meminta Kemenaker untuk lebih terbuka dan adil pada pekerja. Kemenaker, menurutnya,
              jangan  cuma  mengamini  keinginan  pengusaha  yang  diwakili  Apindo  dan  Kadin.  Dia
              mengungkapkan dalam pertemuan pada 10 Juli lalu, Apindo dan Kadin menyatakan tim teknis
              tidak perlu mengambil keputusan dan kesepakatan.

              Aspek, KSPI, KSPSI Andi Gani, dan FSP Kahutindo, kecewa dengan sikap Apindo dan Kadin yang
              mengatakan  pertemuan  untuk  hanya  untuk  memberikan  masukan.  Selain  itu,  perwakilan
              pengusaha itu mengatakan tim teknis ini bukan perundingan para pihak.

              Kedongkolan serikat pekerja semakin menjadi karena sikap Apindo dan Kadin, Menurut Mirah,
              diamini oleh perwakilan pemerintah dalam rapat tersebut. "Pemerintah dan pengusaha cuma
              ingin memaksakan kehendak agar RUU Cipta Kerja dapat segera disahkan. Padahal isinya sangat
              merugikan kepentingan pekerja dan para pencari kerja," ungkapnya.

              Serikat  pekerja  dalam  pertemuan  sebelumnya,  8  Juli  2020,  sebenarnya  telah  mengajukan
              konsep untuk draf Omnibus Law Ciptaker kepada Kemenaker dan Apindo dan Kadin. konsep itu
              berisi  analisa  dan  pandangan  serikat  pekerja  mengenai  dasar  penolakan  klaster
              ketenagakerjaan.

              Selain  itu,  mengusulkan  Undang-Undang  (UU)  Nomor  13  Tahun  2003  dijadikan  sebagai
              perlindungan kesejahteraan yang paling minimal bagi pekerja. Konsep itu tidak diterima oleh
              Apindo dan Kadin.

              Karena itu, Aspek dan sejumlah serikat pekerja lain mengancam akan menggelar demonstrasi
              besar-besaran jika pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan pengusaha memaksakan
              mengesahkan Omnibus Law Ciptaker.

              "Pekerja dan rakyat harus bersatu melakukan penolakan RUU Ciptaker yang isinya eksploitatif.
              Di masa depan akan menyengsarakan nasib anak bangsa secara berkepanjangan," pungkasnya.

              (muh).








                                                           266
   262   263   264   265   266   267   268   269   270   271   272