Page 262 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2020
P. 262

MENTERI PPPA MINTA RUU PPRT SEGERA DISAHKAN

              Merdeka.com -    Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang
              Puspayoga menegaskan, diskriminasi dan stigmatisasi terhadap Pekerja Rumah Tangga (PRT)
              dalam bentuk apapun harus segera dihentikan. Terutama perihal bahwa PRT adalah pekerjaan
              yang tidak memerlukan keterampilan dan tidak bernilai ekonomis.

              "Keberadaan PRT sangatlah penting untuk menunjang dan membantu urusan rumah tangga
              serta kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja
              Rumah  Tangga  (RUU  PPRT)  harus  segera  disahkan  guna  memberikan  perlindungan  dan
              kesejahteraan bagi PRT," tegasnya di  Jakarta  , Selasa (14/7).

              Bintang mengatakan, sudah menjadi tugas negara untuk dapat memberikan perlindungan serta
              rasa aman dan nyaman bagi segenap warganya, termasuk juga bagi PRT. Sebab, RUU PPRT
              sudah masuk ke dalam RUU Prioritas pada tahun 2020 dalam masa bakti DPR RI periode 2019-
              2024.

              "Oleh  sebab  itu,  marilah  bersama-sama  kita  mengawal  terbentuknya  aturan  ini,  demi
              memperoleh kesetaraan dan keadilan dalam pemenuhan hak bagi PRT," katanya.
              Selain itu, karena data mengatakan bahwa mayoritas PRT berjenis kelamin perempuan, Bintang
              sangat mendukung pengesahan RUU PPRT ini agar tercipta aturan hukum yang jelas mengenai
              hak dan kewajiban dari PRT.

              "Termasuk  juga  dengan  pemberi  kerja.  Hal  ini  untuk  mengantisipasi  terjadinya  kekerasan,
              eksploitasi, dan diskriminasi terhadap PRT," kata Bintang.

              Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Badan Pusat Statistik pada Agustus
              2019, Pekerja rumah tangga (PRT) merupakan salah satu jenis pekerjaan dalam sektor informal.
              Di sektor informal sendiri, persentase pekerja perempuan memang lebih kecil dibanding laki-
              laki, dan hal ini merupakan hal yang umum terjadi secara global (ILO, 2018).

              Pekerja laki-laki pada kegiatan informal sebesar 58,03 persen, sementara perempuan 41,97
              persen. Data Survei ILO dan Universitas Indonesia pada 2015 memperkirakan jumlah PRT di
              Indonesia sebanyak 4,2 juta jiwa, dengan rasio 292 PRT perempuan untuk setiap 100 PRT laki-
              laki.

              "Berdasarkan angka tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa jumlah PRT yang sebenarnya
              lebih  besar  dari  data-data  yang  disajikan  karena  seringkali  PRT  dipekerjakan  secara  lisan
              sehingga luput dari pencatatan data," pungkasnya.

              [eko].


















                                                           261
   257   258   259   260   261   262   263   264   265   266   267