Page 284 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2020
P. 284

kontrol  dan  pengawasan  pemerintah.  Padahal  praktik  situasi  kerjanya  rawan  dan  rentan
              terhadap diskriminasi seperti pelecehan terhadap profesi, eksploitasi, dan kekerasan baik secara
              ekonomi, fisik dan psikis (dalam bentuk intimidasi maupun dalam bentuk isolasi). Di dalam RUU
              PPRT  nantinya  harus dipastikan  adanya  hak  dan  kewajiban  yang berimbang  antar  PRT dan
              pemberi kerja agar memberikan perlindungan dalam bentuk penghormatan hak asasi manusia,
              keadilan  dan  kesetaraan,  dan  kepastian  hukum.  Hal  ini  juga  merujuk  kepada  Sustainable
              Development Goals (SDGs) yang menyebutkan No One Left Behind, guna meningkatkan kualitas
              hidup  secara  ekonomi,  pendidikan,  kesehatan  dan  kesejahteraan  PRT  sebagaimana  pekerja
              lainnya tanpa ada yang tertinggal, serta memperjuangkan hak dan kewajiban yang seimbang
              antara PRT dan pemberi kerja



              Ringkasan

              Menteri  Pemberdayaan  Perempuan  dan  Perlindungan  Anak  (PPPA),  Bintang  Puspayoga
              menegaskan, diskriminasi dan stigmatisasi terhadap Pekerja Rumah Tangga (PRT) dalam bentuk
              apapun  harus  segera  dihentikan.  Terutama  anggapan,  PRT  adalah  pekerjaan  yang  tidak
              memerlukan  keterampilan  dan  tidak  bernilai  ekonomis.  Sebab,  jaminan  perlindungan  dan
              kesejahteraan PRT tidak hanya penting bagi pekerja saja, tetapi juga bagi pemberi kerja.


              MENTERI: KEBERADAAN PEKERJA RUMAH TANGGA SANGAT PENTING

              JAKARTA,  publikreport.com    -  Menteri  Pemberdayaan  Perempuan  dan  Perlindungan  Anak
              (PPPA), Bintang Puspayoga menegaskan, diskriminasi dan stigmatisasi terhadap Pekerja Rumah
              Tangga (PRT) dalam bentuk apapun harus segera dihentikan.

              Terutama  anggapan,  PRT  adalah  pekerjaan  yang  tidak  memerlukan  keterampilan  dan  tidak
              bernilai ekonomis. Sebab, jaminan perlindungan dan kesejahteraan PRT tidak hanya penting
              bagi pekerja saja, tetapi juga bagi pemberi kerja.

              Keberadaan  PRT  sangatlah  penting  untuk  menunjang  dan  membantu  urusan  rumah  tangga
              serta kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja
              Rumah  Tangga  (RUU  PPRT)  harus  segera  disahkan  guna  memberikan  perlindungan  dan
              kesejahteraan bagi PRT," tegas Bintang Puspayoga pada Webinar Pentingnya Undang-Undang
              Perlindungan  PRT  untuk  Perempuan  Indonesia, sebagaimana  siaran  pers  Kementerian  PPPA
              yang diterima publikreport.com, Senin 13 Juli 2020, malam.

              Sudah menjadi tugas negara, menurut Bintang, untuk dapat memberikan perlindungan serta
              rasa aman dan nyaman bagi segenap warganya, termasuk juga bagi PRT.

              RUU PPRT sudah masuk ke dalam RUU Prioritas pada tahun 2020 dalam masa bakti DPR RI
              periode 2019 - 2024. Oleh sebab itu, marilah bersama-sama kita mengawal terbentuknya aturan
              ini, demi memperoleh kesetaraan dan keadilan dalam pemenuhan hak bagi PRT.  Selain itu,
              karena data mengatakan bahwa mayoritas PRT berjenis kelamin perempuan, selaku menteri
              yang memiliki tugas untuk menjamin pemberdayaan perempuan di Indonesia, saya tentunya
              sangat mendukung pengesahan RUU PPRT ini agar tercipta aturan hukum yang jelas mengenai
              hak dan kewajiban dari PRT termasuk juga dengan pemberi kerja. Hal ini untuk mengantisipasi
              terjadinya kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi terhadap PRT," paparnya.

              Berdasarkan  Survei  Angkatan  Kerja  Nasional  (Sakernas)  Badan  Pusat  Statistik  (BPS)  pada
              Agustus  2019,  Bintang  mengungkapkan,  PRT  merupakan  salah  satu  jenis  pekerjaan  dalam
              sektor informal. Di sektor informal sendiri, persentase pekerja perempuan memang lebih kecil
              dibanding laki-laki, dan hal ini merupakan hal yang umum terjadi secara global (ILO, 2018).
                                                           283
   279   280   281   282   283   284   285   286   287