Page 39 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 JULI 2019
P. 39
Indonesia menghentikan sementara pengiriman TKI ke Saudi lalu diikuti dengan
moratorium ke 21 negara timur tengah lainnya.
Kini upaya menempatkan PMI ke Saudi kembali dirintis. Sebenarnya penempatan ke
Saudi primadona bagi PMI di banyak daerah. Daya tarik negara penjaga dua kota
suci, Makkah dan Madinah itu begitu besar.
Di saat moratorium saja, minat itu tidak pudar. Pemerintah Indonesia tidak bisa
membendung WNI yang ingin bekerja ke sana, dengan berbagai cara, sekali pun
ilegal. Ilegal di mata Indonesia, legal di mata pengguna (user) karena tidak sedikit
PMI memiliki visa kerja.
Di sisi lain, kebutuhan pekerja di dalam rumah ( domestic helper ) di Saudi sangat
besar. Tidak cukup satu, keluarga di Saudi bisa membutuhkan dua hingga tiga PMI
di dalam satu rumah.
Bahkan, sebelum moratorium, sopir taksi bisa merekrut dua pekerja rumah tangga
Indonesia. Karena memiliki pekerja rumah tangga sudah menjadi kebutuhan, juga
gaya hidup.
Kebutuhan, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa isteri di negara kaya itu
sejak gadis tidak terampil melakukan pekerjaan rumah tangga. Sejak kecil, semua
dikerjakan oleh pembantu. Setelah menikah, keberadaan akan asisten rumah
tangga itu menjadi kebutuhan utama.
Kelakar liarnya, rumah tangga bisa bubar jika pembantu tak ada. Kondisi yang sama
juga terjadi di rumah tangga di negara-negara timur tengah lainnya.
Karena itu visa kerja mudah didapat meskipun moratorium masih berlaku.
Sementara, pekerja rumah tangga Indonesia juga sangat diminati karena relatif
lebih bersih, santun, tidak banyak menuntut dan muslimah.
Selama moratorium pekerja rumah tangga Indonesia menjadi mahal dan disayang.
Mereka dibujuk agar tidak pulang. Kontrak dan masa tinggal yang sudah berakhir
diurus oleh majikan.
Majikan khawatir, jika TKI pulang maka tak akan kembali. TKI juga khawatir, jika
pulang bahkan jika cuti sekali pun, belum tentu bisa kerja di Saudi lagi.
Kebutuhan TKI di Saudi masih sangat besar. Karena itu, meskipun dalam kondisi
moratorium, devisa (remitens) yang dikirim TKI dari timur tengah masih yang
terbesar, yakni hampir 50 persen dari Rp156 triliun pada 2018.
Jika demikian, sesungguhnya mudah untuk memulai penempatan kembali. Namun,
kedua negara tampaknya berhati-hati dalam menyikapinya.
Page 38 of 121.

