Page 142 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2019
P. 142

Timboel mengatakan, upah minimum yang merupakan perintah konstitusi harus
               dipertanggungjawabkan juga oleh pemerintah melalui instrumen subsidi dari APBN
               dan APBD kepada pekerja dan pengusaha.


                Dia menilai selama ini pengusaha dihadapkan langsung kepada pekerja untuk terus
               bertikai soal upah minimum, sementara pemerintah tidak mau intervensi dari APBN
               /APBD dan malah mempersulit pengusaha dengan biaya-biaya tinggi dan ilegal.
               Sebab itu, Pemerintah seharusnya berusaha untuk mencari format upah minimum
               yang berkeadilan dengan keikutsertaan APBN/APBD bukan malah menghilangkan.

                "Kan kalau UMP dipakai yang paling rendah di sebuah kota/kabupaten sementara
               ada kota/kebupaten yang sudah tinggi biayanya. Misalkan Jawa Barat kan mengacu
               pada yang paling rendah seperti Ciamis. Kalau UMP dengan standar Ciamis dipakai
               di Bogor ya kasihan pekerja di Bogor yang biaya hidupnya lebih besar."  Pengamat
               Ketenagakerjaan dari Univeritas Airlangga Hadi Subhan mengatakan, wacana
               penghapusan skema UMK dan UMSK tidak tepat. Pasalnya, kondisi setiap kota dan
               kabupaten di setiap provinsi sangat berbeda-beda.

                "Misalnya di Jawa Timur antara Surabaya dengan Pacitan tentu sangat jauh beda.
               Kalau ukurannya Jakarta memang hanya perlu UMP, karena kondisi antara Jakarta
               Pusat, Barat, Selatan, Timur dan Utara itu kan tidak berbeda. Kalau provinsi lain,
               nanti akan terjadi pemiskinan struktural di daerah urban. Karena UMP nya jauh lebih
               kecil," jelas Hadi.

                Sebab itu, dia mengusulkan agar UMK dan UMS tetap ada. Di samping itu,
               pemerintah perlu memberikan stimulus atau insentif seperti subsidi listrik industri,
               penyederhanaan tarif pajak.

                Guru Besar Universitas Krisnadwipayana sekaligus pakar ketenagakerjaan dan
               hubungan industrial Payaman Simanjuntak mengatakan wacana penghapusan UMK
               dan UMS dapat menimbulkan masalah, terutama untuk provinsi yang kemampuan
               kabupaten/kotanya sangat berbeda seperti provinsi Jawa Barat.


                "Kemampuan kabupaten Bekasi sangat jauh di atas Kabupaten Sukabumi. Di
               provinsi Sumatera Utara misalnya, kemampuan Kabupaten Deli Serdang jauh di atas
               kemampuan Kabupaten di Nias.Upah minimum sektoral sangat tergantung pada
               negosiasi asosiasi pengusaha dan serikat pekerja di sektor yang bersangkutan. UMK
               dan Upah Sektor diatur secara eksplisit dalam UU Ketenagakerjaan. Jadi kalau mau
               tidak diberlakukan, perlu undang-undangnya diubah dahulu."


















                                                      Page 141 of 211.
   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147