Page 141 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2019
P. 141

Menurutnya, apabila kebijakan ini ditetapkan, dampaknya akan meningkatkan
               kondusivitas iklim usaha Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi dan untuk
               meningkatkan daya saing produk ekspor nasional karena peningkatan beban tenaga
               kerja menjadi lebih terprediksi.


                Namun, imbuhnya, hal ini tidak berarti bahwa masalah daya saing iklim usaha
               nasional dari sisi regulasi ketenagakerjaan sudah selesai.


                Sebab, masih ada beberapa masalah krusial terkait dengan proporsionalitas beban
               biaya tenaga kerja dengan produktivitas seperti aturan jam kerja di Indonesia yang
               kurang bersaing dibandingkan dengan negara Asean lain, prosedur perekrutan dan
               pemberhentian kerja yang terlalu menyulitkan perusahaan dan berbiaya tinggi,
               kekakuan regulasi tenaga kerja untuk menciptakan mobilitas tenaga kerja yang
               maksimal dan menciptakan produktivitas yang lebih tinggi pascaadopsi teknologi
               baru.

                "Ini isu-isu ketenagakerjaan yang harus diatasi juga agar iklim ketenagakerjaan kita
               betul-betul mendukung pertumbuhan produktifitas ekonomi nasional dan cukup
               bersaing untuk ekspor dan menarik investasi lebih banyak ke Indonesia."  Wakil
               Ketua Umum Kamar Dangan dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perindustrian
               Johnny Darmawan mengaku sepakat dengan adanya wacana tersebut. Sebab,
               skema pengupahan di Indonesia memang sangat mahal jika dibandingkan dengan
               negara lain di Asia Tenggara.

                "Menurut saya, wacana [penghapusan UMK dan UMS] setuju tetapi metodenya apa
               harus dibicarakan, dan juga harus mengacu secara produktivitas," kata Johnny.

                Sementara itu, Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Timboel Siregar
               mengatakan upah minimum merupakan instrumen operasional dari amanat UUD
               1945 yang menyatakan rakyat indonesia berhak atas penghidupan yang layak. Upah
               minimum yang merupakan hak normatif juga diatur dalam Undang-Undang
               No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan.


                "Upah minimum itu instrumen negara untuk memastikan pekerja memiliki
               penghidupan yang layak, instrumen jaring pengaman agar pekerja memiliki daya
               beli. Karenanya, bila ada usulan untuk menghapus upah minimum itu artinya
               melanggar UUD 1945," kata Timboel kepada   Kamis (14/11/2019).

                Dalam hal ini, dia mengatakan jika wacana itu dilakukan itu artinya negara lepas
               tangan terhadap perlindungan dasar bagi pekerja.

                "Ini wujud lepas tangannya negara atas perlindungan dasar bagi pekerja yang akan
               berdampak pada lemahnya daya beli buruh yang berdampak pada konsumsi agregat
               sebagai salah satu poin pertumbuhan ekonomi."  Menurutnya, yang perlu dilakukan
               pemerintah bukanlah menghapus UMK dan UMSK, melainkan mengubah pola pikir
               bahwa upah minimum adalah tanggung jawab pengusaha.







                                                      Page 140 of 211.
   136   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146