Page 140 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2019
P. 140

Title          RENCANA PENGHAPUSAN UMK DAN UMSK TUAI PRO KONTRA
               Media Name     bisnis.com
               Pub. Date      15 November 2019
                              https://ekonomi.bisnis.com/read/20191115/12/1170705/rencana-penghapusa n-umk-
               Page/URL
                              dan-umsk-tuai-pro-kontra
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Positive











               JAKARTA - Pemerintah akan kembali mengkaji skema pengupahan dengan
               meniadakan upah minimum kabupaten/kota (UMK), upah minimum sektoral
               kabupaten/kota (UMSK), dan menjadikan upah minimum provinsi (UMP) sebagai
               satu-satunya acuan besaran nilai gaji.

                Meskipun baru wacana, rencana Kemenaker untuk mengkaji skema pengupahan
               sudah menimbulkan pro kontra antara pengusaha dan pekerja.

                Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani
               mengatakan pihaknya mendukung adanya wacana tersebut dan rencana itu sangat
               positif. Menurutnya, kebijakan itu bisa mengembalikan fungsi upah mininum sebagai
               jaring pengaman dan mengembalikan mekanisme penetapan upah yang dibayarkan
               (take-home pay  ) dalam negosiasi antara perusahaan dan pekerja sesuai dengan
               tingkat kompetensi, produktivitas dan kemampuan bayar perusahaan.

                "Pelaku usaha sebetulnya keberatan dengan mekanisme UMK dan UMSK karena
               persentase kenaikannya jauh lebih tinggi daripada UMP berdasarkan Peraturan
               Pemerintah No.78/2015 tentang Pengupahan tanpa ada korelasi yang jelas terhadap
               peningkatan produktivitas pekerja di kota/kabupaten atau di sektor usaha tersebut,"
               kata Shinta kepada   , Kamis (14/11/2019).

                Menurutnya, besaran UMSK tidak dapat dipukul rata di semua daerah lantaran
               kemampuan masing-masing pelaku usahanya bebeda-beda. Setiap sektor usaha pu
               punya pelaku usaha dengan skala bisnis yang berbeda-beda.

                "Akan selalu ada perusahaan skala kecil, menengah & besar di tiap sektor dan
               tentu saja kemampuan bayar mereka tidak sama. Kalau pelaku usaha skala UMKM
               di sektor dipaksa untuk membayar upah sektoral yang besarannya diambil dari rata-
               rata usaha skala besar tentu tidak adil dan sama saja dengan mematikan UMKM di
               sektor itu."  Untuk UMK, Shinta merasa pemda kabupaten/kota tidak perlu membuat
               UMK karena UMP sudah cukup menjadi acuan. Di satu sisi, UMP juga sudah
               diperhitungkan berdasarkan perhitungan KHL rata-rata di provinsi sehingga
               seharusnya UMP cukup mewakili perhitungan jaring pengaman sosial yang
               dibutuhkan kabupaten/kota di provinsi tersebut.







                                                      Page 139 of 211.
   135   136   137   138   139   140   141   142   143   144   145