Page 186 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2019
P. 186

Ini Situasi yang Membuat RI Tak Meratifikasi Konvensi ILO

               Jika mengacu pada ketentuan upah minimum dunia, ILO sebagai lembaga di bawah
               Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyusun konvensi penetapan upah
               minimum. Tidak tanggung-tanggung, ada tiga konvensi terkait upah minimum yang
               diterbitkan pada tahun 1928, 1951, dan 1970.

               Sejak zaman Presiden Soekarno hingga kini, Indonesia belum meratifikasi bahkan
               satu saja dari tiga konvensi upah minimum itu. Undang-Undang Ketenagakerjaan
               Nomor 13 Tahun 2003 memang mengatur mengenai upah minimum, tapi belum
               sesuai dengan standard ILO.


               Sebagai contoh, UMP di Indonesia menghitung komponen hidup layak (KHL) lajang,
               sedangkan KHL menurut standard ILO menghitung kebutuhan satu rumah tangga.
               Indonesia belum berani masuk ke sana karena khawatir penghitungan KHL runah
               tangga berujung pada upah minimum yang lebih tinggi ketimbang KHL untuk lajang.

               Terkait dengan upah minimum tunggal, dalam konvensi ILO terbaru tahun 1970,
               yakni konvensi Nomor 131, lembaga tersebut menegaskan bahwa pihaknya tidak
               mewajibkan upah minimum tunggal an sich dan tidak menganggapnya sebagai
               model baku. Artinya, wacana UMP tunggal ini tak bisa dibilang sejalan dengan
               rekomendasi ILO.

               Namun apakah sistem sekarang (UMP dan UMK) sudah sesuai dengan idealita ILO?
               Tidak juga. Dalam rekomendasinya, ILO menegaskan bahwa UMP yang bervariasi
               semestinya berlaku sesuai konteks sektoral: "either by fixing a single minimum wage
               of general application or by fixing a series of minimum wages applying to particular
               groups of workers."

               Di Indonesia justru yang terjadi adalah upah minimum berlapis secara vertikal (UMP
               dan UMK) dan secara bersamaan bervariasi secara horizontal (UMS). Dalam hal ini,
               Indonesiameski tak meratifikasi konvensi 131justru terlihat berlebihan hingga
               melampaui standard ILO.

               Dengan kata lain, aturan upah minimum di Indonesia salah kaprah karena
               memberlakukan upah minimum berlapis (UMP dan UMK), selain memberlakukan
               upah minimum beragam (UMS). Kuncinya bukan berlapis secara vertikal (menurut
               wilayah), melainkan beragam secara horizonal (sesuai kondisi tiap industri).

               Selain itu, sistem upah minimum kita juga canggung karena berusaha melindungi
               buruh (dengan upah minimum berlapis) tetapi juga memberi ruang bagi pengusaha
               untuk tak memenuhinya (dengan mekanisme penangguhan dan juga tak
               meratifikasi konvensi ILO).


               Dalam hal komponen hidup layak, pilihan untuk menggunakan acuan standard hidup
               lajang juga menjadi bumerang, karena jumlah komponen di dalamnya bisa
               bertambah dan fluid. Akibatnya, kita mendapati 60 komponen KHL, dan buruh ingin






                                                      Page 185 of 211.
   181   182   183   184   185   186   187   188   189   190   191