Page 30 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JULI 2020
P. 30
tak kunjung pulih dan permintaan berbagai komoditas nasional turun, maka bukan tidak
mungkin kondisi perekonomian Indonesia akan makin terpuruk. Optimisme sebagian pihak yang
memprediksi angka pertumbuhan ekonomi bakal segera pulih dan tahun depan bisa kembali ke
angka sekitar 5%, tentu membutuhkan berbagai stimulus dan program intervensi yang tepat
Alarm bahwa Indonesia sudah berada di ujung resesi harus diakui makin hari makin kuat.
Berbeda dengan krisis ekonomi global di tahun 2009 yang hanya menyerang sektor keuangan,
krisis ekonomi yang terjadi akibat imbas pandemi Covid-19 menyerang hampir semua sendi
kehidupan dan dunia usaha dari berbagai level.
Dampak wabah Covid-19 tidak hanya menyebabkan kegiatan ekonomi di sekt or kelas
menengah bawah yang kolaps, tetapi juga industri berskala besar sepert i industri manufaktur.
Di berbagai daerah, sudah bukan rahasia kalau banyak perusahaan mulai mengurangi dan
bahkan menghentikan aktivitas operasional perusahaan karena omzet yang turun bahkan
minus.
Di Indonesia, diperkirakan akibat wabah Covid-19 jumlah penduduk miskin kembali naik dan
bertambah hingga 8 juta jiwa lebih. Demikian pula angka pengangguran juga dilaporkan naik
drastis karena banyak bermunculan pengangguran baru akibat mereka mei\jadi korban PHK
atau usahanya kolaps.
Kalau pun mereka masih bekerja, biasanya bukan lagi pekerja penuh waktu. Mereka bekerja
secara bergiliran, dengan konsekuensi gajinya susut hanya tinggal separuh bahkan lebih kecil
lagi.
Sejumlah mahasiswa S2 Program Akuntansi yang penulis ajar, misalnya mereka termasuk
kelompok penduduk yang kini mengeluh karena kehilangan sumber penghasilan akibat hanya
masuk kantor seminggu 2 kali atau bahkan seminggu sekali.
Tidak ada klien yang masuk, dan sepinya transaksi ekonomi menyebabkan para akuntan yang
termasuk pekerja kelas menengah pun teipaksa hidup pas-pasan. Tabungan mereka pelan-
pelan juga mulai terkuras habis, sehingga jumlah penduduk miskin baru pun terus bertambah.
Bisa dibayangkan kalau penduduk yang sebelumnya termasuk kelompok mapan tiba-tiba anjlok
status ekonominya menjadi orang miskin baru, lantas bagaimana nasib penduduk miskin yang
sehari-hari hidup pas-pasan?
Bisa dipastikan penduduk miskin di era pandemi Covid-19 akan makin terperangkap dalam
jebakan kemiskinan yang lebih parah. Jangankan memikirkan untuk mengembangkan
usahanya, bahkan untuk bertahan hidup secara subsistence (pemenuhan kebutuhan di level
minimum) pun mereka tampaknya tidak lagi mampu memenuhinya.
Resesi ekonomi yang mengancam Indonesia, niscaya akan berdampak menyebabkan daftar
pencari kerja dan pengangguran bertambah panjang, jumlah penduduk miskin baru dan
penduduk miskin yang mengalami pendalaman kemiskinan akan terus bertambah, sehingga
ujung-ujungnya daya beli masyarakat akan turun drastis.
Pada titik ini, lantas apa yang harus dilakukan untuk mengeliminasi agar dampak resesi ekonomi
tidak membuat Indonesia kehilangan momentum untuk melakukan recovery economy?
Untuk menyiasati agar Indonesia tidak terpuruk dalam jurang resesi yang merugikan, kuncinya
adalah bagaimana mendorong dan menumbuhkan kembali daya beli masyarakat. Secara
teoritis, penurunan daya beli masyarakat akan membuat tingkat konsumsi rumah tangga
melorot. Padahal, konsumsi rumah tangga selama ini menjadi komponen pembentuk produk
domestik bruto (PDB) terbesar.
29

