Page 41 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JULI 2020
P. 41

SERIKAT BURUH DI PERSIMPANGAN JALAN

              Lagu legendaris Power in a Union yang ditulis oleh seorang aktivis buruh bernama Joe Hill pada
              I913 tampaknya sulit untuk diselaraskan dengan kondisi dan perjuangan buruh di Indonesia
              saat ini.

              Yustinus Andri DP
              Kehadiran RUU Cipta Kerja sejak lama telah menimbulkan polarisasi, terutama antara pekerja,
              pemerintah dan pengusaha. Namun, kali ini perbedaan pendapat justru dialami antarserikat
              pekerja.

              Adapun,  dalam  pembahasan  RUU  Cipta  Kerja  klaster  Ketenagakerjaan,  serikat  pekerja,
              pengusaha dan pemerintah sepakat membentuk tim khusus. Tim itu terdiri dari unsur pekerja
              beranggotakan 15 orang, terdiri dari perwakilan KSPSI AGN (3 orang), KSPI (3 orang), KSPSI
              Yoris (3 orang), KSBSI (2 orang), KSPN (1 orang), K. SARBUMUSI (1 orang), FSPPN (1 orang),
              FSP Kahutindo (1 orang).

              Sementara itu, unsur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apin-do) dan Kamar Dagang dan Industri
              (Kadin) berjumlah 15 orang serta unsur pemerintah 25 orang.

              Tim yang dibentuk pada 3 Juli 2020 tersebut merupakan wujud keterwakilan tiap unsur tripartit
              dalam  hubungan  industrial.  Selain  itu  tim  tersebut  dibentuk  Kementerian  Ketenagakerjaan
              dengan tujuan mencari jalan keluar atas buntunya pembahasan klaster ketenagakerjaan.

              Dalam sejumlah narasi yang digaungkan kubu pekerja, mereka menilai RUU Cipta Kerja klaster
              Ketenagakerjaan memiliki ketentuan yang dapat menghapuskan upah minimum kabupaten/kota
              (UMK), dan upah minimum sektoral kabupaten/kota (UMSK).

              Selain itu, mereka juga menganggap beleid itu akan memperbolehkan pemberlakuan skema
              upah perjam di bawah UMK, mengurangi besaran pesangon, penggunaan buruh outsourcing
              seumur hidup untuk semua jenis pekerjaan, jam kerja yang eksploitatif, penghapusan hak upah
              saat cuti, akses yang lebih luas bagi tenaga kerja asing (TKA) berkemampuan rendah serta
              hilangnya beberapa sanksi pidana untuk pengusaha dalam pelanggaran ketenagakerjaan.

              Namun  demikian,  dalam  perjalanannya  unsur  pekerja  yang  diwakili  oleh  sejumlah  serikat
              pekerja atau buruh tersebut harus berpisah di persimpangan jalan.

              Pada 13 Juli 2020, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang dipimpin oleh Said Iqbal
              mengumumkan bahwa mereka menyatakan keluar dari tim teknis tersebut. Langkah itu diklaim
              Said dikuti pula oleh KSPSI AGN yang dipimpin oleh Andi Gani, dan FSP Kahutindo.

              Keputusan  itu  secara  umum  didasarkan  penolakan  terhadap  pemberlakukan  klaster
              ketenagakerjaan dalam RUU Cipta Kerja. Secara lebih perinci, Said mengatakan, keluarnya KSPI,
              KSPI  AGN  dan  FSP  Kahutindo  disebabkan  oleh  tim  teknis  yang  dinilainya  tidak  memiliki
              kewenangan untuk mengambil keputusan dan kesepakatan apapun.

              Selain itu, KSPI menilai Kadin dan Apindo berlaku arogan karena secara sepihak mengembalikan
              konsep  RUU  yang  diusulkan  oleh  kubu  pekerja.  Sementara  itu,  Kadin  dan  Apindo  tidak
              menunjukkan draf usulannya.

              Said menyebutkan, sebelumnya pada pertemuan perdana pada 8 Juli 2020, serikat pekerja yang
              tergabung di dalam Majelis Pakerja Buruh Indonesia (MPBI) yang terdiri dari KSPSI AGN, KSPI,
              dan KSBSI serta atas persetujuan serikat buruh yang lain menyerahkan satu draft bersama
              sandingan RUU Cipta Kerja.


                                                           40
   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46