Page 42 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JULI 2020
P. 42

"Isi dari draft itu berisi analisa dan pandangan serikat buruh mengenai dasar penolakan kami
              terhadap  klaster  ketenagakerjaan,  kemudian  mengusulkan  agar  UU  No.  13  Tahun  2003
              dijadikan  sebagai  perlindungan  kesejahteraan  yang  paling  minimal  bagi  pekerja/buruh,"
              ujarnya, Jumat (20/7).

              Selain  terkesan  dipaksakan,  Said  juga  tidak  ingin  masukan  yang  disampaikan  buruh  hanya
              sekadar ditampung. Untuk itu, di samping menarik diri dari tim, mereka pun memutuskan untuk
              menolak diberlakukannya RUU Cipta Kerja, terutama klaster Ketenagakerjaan.
              LEMPAR TANGGUNG JAWAB

              Namun belakangan, serikat pekerja yang memastikan keluar dari tim teknis hanya tersisa dua,
              yakni  KSPI  dan  KSPI  AGN.  Sementara  itu  FSP  Kahutindo  yang  awalnya  diklaim  ikut  keluar
              menyatakan masih berada dalam tim.

              Said pun menyatakan, kelompok serikat pekerja yang masih bertahan di tim harus bertanggung
              jawab penuh jika RUU Cipta Kerja klaster Ketenagakerjaan pada akhirnya disahkan.

              Menanggapi hal itu, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Elly Rosita
              Silaban menampik anggapan keputusan konfederasinya untuk bertahan di dalam tim, secara
              tidak langsung, sepakat dengan usulan-usulan pengusaha dan pemerintah dalam RUU Cipta
              Kerja.

              "Justru  kami  ingin  mengawal  dengan  baik  RUU  Cipta  Kerja  dengan  terlibat  langsung dalam
              perundingan resmi. Kami juga tidak ingin dianggap plin-plan karena sebelumya minta dibentuk
              tim teknis namun akhirnya keluar begitu saja. Justru hal itu akan jadi titik lemah kita nantinya,"
              ujarnya kepada Bisnis, Minggu (19/7).

              Senada,  Juru  bicara  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Nasional  (KSPN)  Ristandi  mengatakan
              bertahannya  sejumlah  konfederasi  dalam  tim  teknis  merupakan  bentuk  konsistensi  dalam
              mengawal RUU Cipta Kerja.

              TAK MEWAKILI

              Sementara itu Apindo dan Kadin dalam pernyataan bersamanya menyebutkan dokumen yang
              diserahkan  KSPI  dalam  Pertemuan  Tripartit  belum  mewakili  seluruh  SP/SB  yang  hadir.  "Di
              samping itu, dokumen tersebut bukanlah sebuah konsep, melainkan dokumen berjudul 'Cabut
              Klaster Ketenagakerjaan dari RUU Cipta Kerja'," tulis pihak Apindo-Kadin.

              Dengan demikian, pihak pengusaha harus menghormati hal tersebut dengan mengembalikan
              dokumen tersebut.

              Selain  itu,  dalam  undangan  resmi  Kementerian  Ketenagakerjaan  untuk  pertemuan  tripartit
              mengenai RUU Cipta Kerja, dikatakan tidak terdapat agenda untuk tukar-menukar dokumen
              konsep. Pertemuan tersebut diklaim sebagai bentuk kelanjutan pembahasan pasal per pasal
              dalam RUU Cipta Kerja klaster Ketenagakerjaan.

              Pengamat  Ketenagakerjaan  dari  Universitas  Airlangga  Hadi  Subhan  mengatakan,  banyaknya
              jumlah  konfederasi  atau  serikat  pekerja  berskala  nasional  di  Indonesia,  justru  menjadi
              kelemahan bagi kubu pekerja dalam perundingan tripartit di Indonesia.

              "Kekhawatiran tentang risiko banyaknya labor union di Indonesia telah muncul sejak lama.

              Sebab dengan makin banyaknya serikat pekerja, maka akan makin banyak pula pendapat dan
              keinginan," katanya kepada Bisnis, Minggu (19/7).



                                                           41
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47