Page 174 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 JANUARI 2020
P. 174

Keluarga Yanuarius, kemudian mengadukan hal itu ke DPRD Kabupaten Belu.

               Ketua komisi II DPRD Kabupaten Belu Theodorus F Seran Tefa kepada Kompas.com,
               mengaku tujuan mereka ke Dinas Koperasi dan Nakertrans NTT untuk berkoordinasi
               terkait rencana otopsi jenazah Bruno.

               "Kami ke Dinas Koperasi dan Nakertrans NTT, untuk memastikan bahwa ada
               respons pemerintah provinsi dan pihak terkait rencana otopsi ulang jenazah Bruno,"
               ungkap Theodorus.

               Tujuan otopsi itu, lanjut Theodorus, agar bisa diketahui apakah ada organ tubuh
               Bruno yang hilang atau tidak.

               "Ini soal kemanusiaan, artinya bukan keluarga menuduh, tetapi keluarga
               mengharapkan pemerintah dapat mengadvokasi, dengan mengotopsi ulang untuk
               memastikan apakah organ tubuh jenazah masih ada atau tidak, sehingga bisa
               menjawab dugaan keluarga itu," kata Theodorus.


               Theodorus pun mengaku, pihaknya bersama pemerintah daerah Kabupaten Belu,
               Komisi Perlindungan TKI dan Kepolisian Resor Belu, telah membuat berita acara
               yang disaksikan oleh masyarakat dan pemerintah Desa Mandeu, bahwa jenazah
               Bruno dikuburkan secara utuh dengan peti yang dibawa dari Malaysia.

               "Kami berharap, dengan proses otopsi ini bisa menjawab semua keinginan keluarga
               Bruno," tutur dia.


               Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Nakertrans NTT, Sesilia Sona, usai rapat
               dengan Komisi II DPRD Belu mengatakan, kedatangan Komisi II untuk berkoordinasi
               mengenai kemungkinan dilakukan otopsi terhadap almarhum Bruno Kehi.

               Sesilia menguraikan, keluarga Bruno curiga karena Bruno hanya menderita luka
               patah kaki saat laka lantas terjadi.


               Bruno pun kemudian dibawa rumah sakit di Malaysia.

               "Di rumah sakit itu korban meninggal dunia. Di situlah mungkin keluarga mencurigai
               korban meninggal tidak wajar, sebab saat lakalantas itu, korban hanya mengalami
               patah kaki," ujar dia.

               Sesilia melanjutkan, pada saat pemakaman korban di kampung halamannya, dibuat
               berita acara yang diketahui baik keluarga korban, pemerintah daerah dan kepolisian
               yang menyatakan bahwa peti mati korban tidak boleh dibuka.

               Dalam perjalanan, berdasarkan kronologi yang diceritakan keluarga yang
               mengetahui persis kematian Bruno di Malaysia, keluarga kemudian merasa ada
               kejanggalan atas kematian tersebut.









                                                      Page 173 of 175.
   169   170   171   172   173   174   175   176